Kumparan Logo

Beda dengan Sri Mulyani, Airlangga Sebut Ekonomi RI Masih Bisa Positif di 2020

kumparanBISNISverified-green

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menkeu Sri Mulyani dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat konferensi pers terkait dampak virus corona di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3).  Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menkeu Sri Mulyani dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat konferensi pers terkait dampak virus corona di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Pemerintah ternyata tak satu suara mengenai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kali ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memprediksi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini masih bisa positif 0,6 persen.

“Perekonomian Indonesia diprediksi minus 1,7 persen sampai dengan positif 0,6 persen pada akhir tahun 2020,” ujar Airlangga saat rakorpim di Bintan, Kepulauan Riau, seperti dikutip keterangannya, Sabtu (26/9).

Perekonomian diperkirakan baru pulih di tahun depan. Pertumbuhan ekonomi 2021 diperkirakan dia sebesar 4,5 persen hingga 5 persen.

“Namun kembali tumbuh positif 4,5 persen sampai 5 persen di tahun 2021. Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak COVID-19. Untuk itu, perlu upaya yang lebih keras untuk mendorong pertumbuhan di sektor ini,” sambung Airlangga.

Meski demikian, Airlangga memperkirakan resesi di Tanah Air tak bisa lagi dibendung. Hal ini terlihat dari proyeksi ekonomi kuartal III yang disebutnya minus 1 persen hingga minus 3 persen.

Warga beraktivitas di rumahnya berlatar belakang hunian bertingkat di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Sabtu (9/5/2020). Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Secara keseluruhan, Airlangga bilang pemulihan perekonomian Indonesia tahun ini akan tergantung dari vaksin COVID-19.

“Kuartal III kira-kira seminggu lagi, diperkirakan outlook kuartal III adalah minus 3 persen hingga minus 1 persen,” kata dia.

“Tentu tergantung hasil ketersediaan vaksin seperti yang direncanakan pemerintah. Indonesia negara yang mendekati ke jumlah penduduk atau 270 juta vaksin,” lanjutnya.

Di pekan ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksi pertumbuhan ekonomi di kuartal III ini minus 1,0 persen hingga minus 2,9 persen.

Sehingga keseluruhan ekonomi di tahun ini minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen, tak ada lagi outlook positif untuk perekonomian. Padahal sebelumnya, dia masih memperkirakan ekonomi tahun ini tumbuh minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen.

“Kemenkeu melakukan revisi forecast September ini, yang sebelumnya tahun ini minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen, forecast terbaru kita untuk 2020 pada kisaran minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers online APBN KiTa, Selasa (22/9).

Tak hanya itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menyebut saat ini Indonesia sudah memasuki resesi. Perlambatan ekonomi menurutnya sudah terlihat di kuartal I tahun ini.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama beberapa tahun ini sekitar 5 persen. Namun di kuartal I 2020 pertumbuhannya melambat 2,97 persen dan anjlok menjadi minus 5,32 persen di kuartal II.

Untuk kuartal III, Febrio memproyeksi perekonomian akan kembali minus 2,9 persen hingga 1 persen. Sehingga menurutnya, Indonesia sudah mengalami resesi.

“Kalau dilihat di kuartal I melambat di bawah 5 persen, kuartal II apalagi, dalam sekali. Kuartal III expect di kisaran minus 2,9 persen dan minus 1 persen, berarti sudah resesi, sudah perpanjangan perlambatan ekonomi kita,” ujar Febrio dalam konferensi pers daring BKF Kemenkeu, Jumat (25/9).