BEI Klaim Laba Emiten Tumbuh 9% di Tengah Ancaman Perubahan Status MSCI

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeklaim kinerja emiten yang tercatat di pasar modal Indonesia masih cukup kuat, meski pasar saham tengah tertekan setelah MSCI mengumumkan konsultasi atas usulan perubahan status pasar saham RI dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, mengatakan secara agregat pendapatan emiten per Juni 2026 tumbuh 13 persen. Sementara itu, laba emiten meningkat sekitar 9 persen dibandingkan periode sebelumnya.
“Pendapatan 13 persen kalau secara agregat, ya, pertumbuhan dari emiten-emiten kita per Juni 2026 karena kita sudah terima laporan keuangan Juni 2026. Laba itu meningkat sekitar 9 persen jadi kinerja dari emiten kita secara agregat itu masih cukup baik,” ujar Iding kepada wartawan di gedung BEI, Jakarta, Jumat (16/10).
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, juga menilai kinerja emiten di pasar modal Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan, terutama dari sisi penjualan.
“Dan kalau boleh apa namanya kita sampaikan bahwa kinerja emiten kita masih cukup kuat, ya, dengan pertumbuhan sales-nya,” kata Saidu.
Dia juga memaparkan secara agregat, total aset emiten meningkat dari Rp 21,583 triliun menjadi Rp 22,128 triliun. Sementara itu, ekuitas tercatat naik dari Rp 7,136 triliun menjadi Rp 7,196 triliun.
“Artinya secara fundamental secara kondisi emiten-emiten yang ada di Bursa Efek Indonesia kita masih cukup kuat dan cukup growth,” ujarnya.
Pernyataan BEI tersebut disampaikan di tengah tekanan di pasar saham Indonesia setelah MSCI mengumumkan konsultasi atas usulan reklasifikasi status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Dalam keterangan resminya, MSCI menyebut pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran signifikan terkait kelayakan investasi (investability) pasar saham Indonesia.
Kekhawatiran mencakup struktur kepemilikan saham yang dinilai belum transparan serta dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi.
Pengumuman tersebut sontak memicu tekanan di pasar saham domestik. Pada perdagangan Jumat (16/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 678,67 poin atau 11,57 persen ke level 5.185,11. Sementara itu, indeks LQ45 turun 15,07 persen ke posisi 508,56.
IHSG juga sempat mengalami penghentian sementara perdagangan (trading halt) setelah anjlok 8 persen pada awal perdagangan.
