BEI Siapkan Strategi Agar Jadi Pusat IPO di ASEAN

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat posisi Indonesia menjadi sebagai salah satu pusat penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) dan tujuan investasi di kawasan ASEAN.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengatakan daya saing pasar modal Indonesia tidak hanya ditentukan oleh banyaknya perusahaan yang mencatatkan saham di bursa, tapi juga kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal.
"BEI memandang bahwa daya saing tidak hanya ditentukan oleh jumlah IPO, tetapi juga oleh kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal,” kata Saidu melalui keterangan tertulis, Kamis (9/7).
Untuk itu, BEI bakal terus memperkuat ekosistem pada tahap sebelum IPO, mulai dari meningkatkan kesiapan perusahaan sesuai karakteristik masing-masing segmen, menyederhanakan proses pencatatan saham, dan memperkuat konektivitas antara perusahaan potensial dengan calon investor melalui pendekatan yang lebih proaktif.
"Oleh karena itu, salah satu arah yang dapat terus dikembangkan adalah memperkuat ekosistem pada tahap pre-IPO, mulai dari peningkatan kesiapan perusahaan sesuai karakteristik masing-masing segmen,” ujarnya.
Tak hanya fokus pada proses pencatatan saham, BEI juga akan memperkuat ekosistem setelah IPO. Saidu menilai daya tarik pasar modal turut ditentukan oleh keberhasilan perusahaan setelah resmi menjadi emiten.
Selain memperkuat ekosistem domestik, BEI juga membangun konektivitas dengan bursa regional untuk memperluas akses investor internasional. Salah satunya lewat peluncuran Unsponsored Depositary Receipts Linkage bersama Singapore Exchange (SGX) Group sebagai tindak lanjut nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 2024.
Di samping itu, BEI juga menjalin kerja sama dengan Hong Kong Exchanges and Clearing (HKEX) lewat MoU yang diteken pada 2024 untuk meningkatkan konektivitas peluang investasi yang lebih besar antara pasar modal Indonesia dan Hong Kong.
