BEI Target 50 Perusahaan IPO pada 2026, Jumlah Investor Tembus 19,1 Juta

Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan akan ada 50 penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) pada tahun 2026. Target tersebut meningkat dibandingkan dengan tahun ini yang diproyeksikan melampaui target awal 45 perusahaan tercatat.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengatakan capaian tahun ini menunjukkan pertumbuhan positif baik dari sisi jumlah perusahaan tercatat, penghimpunan dana, maupun aktivitas investor di pasar modal.
"Dengan saham 50, target tahun ini kita 45, tahun depan kita targetnya 50 IPO saham," ujar Iman saat konferensi pers RUPSLB BEI secara daring, Rabu (29/10).
Ia menyebut, hingga saat ini kinerja pasar modal RI masih solid. Di mana, hingga 24 Oktober 2025, ada 955 saham Perusahaan Tercatat di BEI dengan penambahan 23 saham baru. Dari penambahan tersebut, lima di antaranya merupakan Lighthouse IPO, yaitu IPO dengan kapitalisasi pasar minimal Rp 3 triliun serta free float 15 persen atau kapitalisasi pasar free float lebih dari Rp 700 miliar.
"Dengan pipeline 13 dengan lighthouse IPO ada 5, jadi target kita tahun ini memang 5 tapi saya rasa di akhir tahun akan melebihi dari target kita," ucapnya.
Total penghimpunan dana dari seluruh efek sepanjang tahun ini mencapai Rp 202,6 triliun. Adapun dari sisi efek baru, BEI mencatat peningkatan jumlah efek menjadi 555 dari target semula 400 efek.
Dari sisi demand, sampai 24 Oktober 2025, jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai lebih dari 19,1 juta investor, naik 28 persen dibandingkan tahun 2024. Dari jumlah tersebut, investor saham mencapai 8 juta orang atau tumbuh hampir lima kali lipat sejak 2020. Sepanjang tahun ini, partisipasi investor ritel juga meningkat dengan rata-rata 222 ribu investor aktif per hari.
Iman menilai pertumbuhan jumlah investor baru tetap positif, namun kualitas partisipasi juga menjadi perhatian BEI.
"Walaupun hari ini investor baru kita sudah bertambah 4,2 juta tapi memang karena target juga OJK 20 juta investor di 2027. Kami merasa target pertumbuhan investor baru kita menjadi 2 juta investor baru cukup menjadi dasar bagi proyeksi. Tapi tentu saja kita tidak bicara mengenai jumlah, hanya jumlah tapi kualitas maupun mengenai jumlah efek teraktif menjadi salah satu target KPI kita," kata dia.
Selain saham, aktivitas perdagangan produk nonsaham seperti right, warrant, structured warrant, Kontrak Investasi Kolektif (KIK), dan derivatif juga mencatatkan nilai transaksi total sebesar Rp 4,48 triliun hingga 24 Oktober 2025.
Setelah peluncuran SPPA Repo, rata-rata volume transaksi harian surat utang melalui SPPA kini mencapai Rp 6 triliun. Sementara itu, aset baru berupa Unit Karbon mencatat total transaksi Rp 27,9 miliar.
Dari sisi kinerja pasar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 24 Oktober 2025 berada di level 8.271,72 atau naik 16,83 persen dibandingkan posisi akhir 2024 di 7.079,90. Nilai kapitalisasi pasar pun melonjak 23 persen menjadi Rp 15.234 triliun dari Rp 12.336 triliun di akhir 2024.
IHSG bahkan sempat mencetak rekor tertinggi di level 8.274,37 pada 23 Oktober 2025, sementara kapitalisasi pasar mencapai rekor Rp 15.559 triliun pada 10 Oktober 2025.
Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) juga meningkat 28 persen menjadi Rp 16,46 triliun dari posisi Desember 2024 sebesar Rp 12,85 triliun.
