Kumparan Logo

Belanja Muslim Global Diproyeksi Tembus USD 3,6 T pada 2029, Ini Strategi RI

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Perempuan Muslimah Belanja di Mall. Foto: Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perempuan Muslimah Belanja di Mall. Foto: Getty Images

Wakil Menteri Koordinator Perekonomian, Drajad Wibowo, memproyeksi belanja muslim global hampir mencapai USD 3,6 triliun pada 2029. Sementara itu, aset keuangan syariah global diperkirakan mencapai USD 9,72 triliun.

“Peluang ekonomi syariah sangat besar. Belanja muslim global pada tahun 2029 diproyeksikan akan mencapai 3 hampir USD 3,6 triliun, dengan aset keuangan syariah global mencapai USD 9,72 triliun,” kata Drajad, pada acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di JCC, Jakarta, Rabu (14/10).

Untuk menangkap peluang itu, pemerintah bakal menempuh lima strategi pengembangan ekonomi syariah. Pertama ialah memperkuat industri halal dan UMKM halal, termasuk usaha ultra mikro yang menggunakan akad berbasis syariah.

Katanya, ada potensi besar dari nasabah usaha mikro yang perlu diperkuat agar mampu berkembang dalam ekosistem ekonomi syariah.

“Jadi yang tidak banyak kita ketahui, itu di Indonesia itu ada secara kumulatif 22 juta nasabah, tapi sekarang 13 juta nasabah yang yang 3/4-nya itu adalah berakad berbasis syariah, ibu-ibu. Nah, ini perlu kita kuatkan ya,” ujarnya.

Strategi kedua adalah meningkatkan ekspor dan kerja sama internasional. Menurut Drajad, RI perlu memperkuat daya saing di pasar global karena pengembangan ekonomi syariah diklaim tak bisa hanya mengandalkan pasar domestik.

Ketiga, pemerintah akan memperkuat ekosistem halal di seluruh lapisan industri, baik di tingkat atas maupun bawah. Keempat, pengembangan keuangan syariah dilakukan lewat koordinasi Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Strategi kelima adalah memperkuat dana sosial syariah yang mencakup zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf). Drajad mengungkapkan potensi ziswaf di RI mencapai Rp 343 triliun per tahun, tetapi realisasinya baru Rp 41 triliun atau sekitar 12 persen.

“Potensi ziswaf mencapai Rp 343 triliun per tahun, tetapi realisasinya baru Rp 41 triliun, hanya 12%. Ini adalah gap yang sangat besar yang perlu kita atasi,” tuturnya.

instagram embed