Belanja Online Meningkat di Masa Pandemi Corona, E-commerce Stoqo Malah Bubar

Di masa pandemi corona, tak sedikit e-commerce yang mendulang untung sebab pesanan pelanggan melonjak berkali lipat. Disokong produk yang berkaitan dengan kebutuhan pokok sehari-hari hingga yang menunjang kesehatan.
Namun ternyata, hal tersebut tak berlaku bagi e-commerce Stoqo. Toko online yang menjual bahan-bahan persediaan mulai dari deterjen hingga bawang putih serta jahe ini mesti gulung tikar.
Berdiri sejak tahun 2017, Stoqo memang lebih berfokus pada pelayanan business to business atau B2B (perusahaan ke perusahaan) seperti perkantoran atau usaha bisnis. Tak elak, saat pandemi corona membatasi ruang gerak bisnis, turut melemahkan usaha Stoqo.
Sumber kumparan mengungkapkan, Stoqo terakhir melayani konsumen pada 22 April 2020. Sehari sebelumnya, dia bilang, manajemen sempat mengumpulkan karyawan yang memberitahukan akan adanya penghentian operasional Stoqo.
"Tanggal 21 April (2020) karyawan dikumpulkan per divisi dipimpin oleh manager bahwa Stoqo berhenti operasi. Semua pekerjaan diminta dihentikan," ujarnya kepada kumparan, Jumat (8/5).
Dia menambahkan, para karyawan lantas diberikan pilihan untuk resign dengan pesangon atau bertahan namun tanpa kejelasan.
"Stoqo setop operasional. Karyawan diminta resign dengan pesangon atau stay tanpa kejelasan," kata dia.
Di laman resmi Stoqo, kumparan (8/5) juga menemukan adanya pemberitahuan tentang berhenti beroperasinya toko online yang mengaku telah melayani dan memberdayakan UKM dalam bidang kuliner di Indonesia.
"Dengan berat hati, kami mengumumkan bahwa Stoqo telah berhenti beroperasi. Sejak tahun 2017, kami membangun Stoqo untuk melayani dan memberdayakan UKM dalam bidang kuliner di Indonesia. Namun, situasi yang dipicu oleh pandemi COVID-19 telah menyebabkan penurunan pendapatan secara drastis bagi kami," tulis keterangan dalam website Stoqo.
Pendiri dan CEO Stoqo Aswin Andrison melalui Tech in Asia sebelumnya menjelaskan, penutupan operasional memang bukan hal yang mudah. Namun apa daya, pandemi corona ini menjadikan cash flow perusahaan kian tergerus hingga akhirnya terpaksa menutup usaha.
"Penurunan pendapatan yang signifikan yang mengakibatkan tantangan arus kas. Kami telah mencoba setiap opsi yang mungkin, tetapi ketika (hari) berlalu, situasi kami menjadi lebih buruk, tidak lebih baik,” seperti dilansir Tech in Asia.
Hingga berita ini ditayangkan, Aswin Andrison tidak bisa dihubungi kumparan, baik nomor kontak Indonesia maupun Singapura.
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.
*****
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
