Kumparan Logo

Beli Emas Lima Tahun Lalu Masih Rp 771 Ribu per Gram, Kini Capai Rp 2,4 Juta

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Karyawan menunjukkan sampel emas batangan di Butik Emas Logam Mulia PT. Aneka Tambang (ANTAM), Semarang, Jawa Tengah, Kamis (4/9/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Karyawan menunjukkan sampel emas batangan di Butik Emas Logam Mulia PT. Aneka Tambang (ANTAM), Semarang, Jawa Tengah, Kamis (4/9/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Harga emas Antam terus mencetak rekor baru. Dalam lima tahun terakhir, nilainya melonjak lebih dari tiga kali lipat. Pada Januari 2020, harga emas Antam masih Rp 771 ribu per gram. Kini, per Kamis (16/10), harga melonjak ke Rp 2.407.000 per gram sekaligus mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Sementara itu, harga buyback atau jual kembali emas Antam juga ikut menguat. Dari Rp 678.000 per gram pada awal 2020, kini meningkat menjadi Rp 2.256.000 per gram.

Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan harga emas masih berpotensi naik ke kisaran Rp 2,5 juta hingga Rp 2,6 juta per gram seiring tren kenaikan harga emas dunia.

Secara global, harga emas diperdagangkan di level USD 4.242 per troy ounce. Jika tekanan jual meningkat, harga berpotensi turun ke USD 4.188, dengan support di USD 4.144. Namun, jika tren bullish berlanjut, harga bisa menembus resistance di USD 4.390 pada November mendatang.

“Bulan November kemungkinan besar bisa tembus di 4.390 dolar. Jadi logam mulia ini terus naik, bahkan bisa mencapai Rp 2,6 juta per gram,” ujar Ibrahim, Kamis (16/10).

Perang Dagang AS-China

Ilustrasi emas batangan. Foto: Athit Perawongmetha/REUTERS

Menurutnya, kenaikan harga emas tidak lepas dari ketegangan geopolitik dan ekonomi global, terutama akibat perang dagang AS–China. Presiden AS Donald Trump disebut kembali memberlakukan tarif impor tinggi terhadap produk China, termasuk tarif 100 persen untuk komoditas tanah jarang.

Kebijakan tersebut diperparah oleh kebuntuan pembahasan anggaran di Kongres AS yang menyebabkan sebagian instansi pemerintah federal tutup sementara.

Bank Sentral AS (The Fed) pun diperkirakan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir Oktober, di tengah ekspektasi 97 persen pelaku pasar bahwa langkah itu diperlukan untuk menahan perlambatan ekonomi.

Selain faktor geopolitik, permintaan emas juga meningkat tajam dari bank sentral di berbagai negara terutama China, India, Amerika Latin, dan Afrika. Mereka aktif menambah cadangan emas sebagai upaya diversifikasi dari dolar AS.

“Tujuannya untuk mendiversifikasi aset. Kalau sebelumnya banyak bergantung pada dolar, kini mereka beralih ke logam mulia, sementara pasokannya terbatas,” jelas Ibrahim.

Ia memperkirakan tren kenaikan harga emas masih akan berlanjut hingga 2028.

Senada, Head of Research & Edukasi Monex Investindo, Ariston Tjendra, menilai kenaikan harga emas dipicu oleh kombinasi perang dagang AS–China, pemangkasan suku bunga The Fed, dan pembelian emas besar-besaran oleh bank sentral global untuk menambah cadangan devisa.

“Dorongan untuk naik atau setidaknya bertahan di atas Rp 2 juta per gram masih terbuka,” kata Ariston.

-

Reporter: Nur Pangesti

instagram embed