Beli Serabi hingga Omikuji di Kuil Sensoji, Transaksi QRIS di Jepang Semudah Ini

Sore hari di pinggiran Tokyo, Jepang, kedai serabi milik Adi Nurwan di kawasan Kichijoji tak berhenti kedatangan pembeli. Para warga Jepang dan pembeli dari negara lain silih berganti memesan penganan khas Solo itu. Beberapa WNI yang bekerja di Jepang juga ikut membeli serabi demi mengobati rindu pada jajanan kampung halaman.
Dari balik kaca, Adi dan pegawai tokonya terlihat terus menuangkan adonan. Ia mengkreasikan serabinya dengan berbagai rasa seperti rendang, matcha choco berry, apple cinnamon, hingga black sesame.
Kedai serabi milik Adi memang tengah menjadi buah bibir. Usaha yang sudah berdiri 2 tahun ini menghiasi beranda media sosial warga lokal. Ia pun telah berkali-kali diliput media setempat.
“Dari media TV Jepang kita sudah diliput 5 kali, radio 2 kali, untuk media majalah sudah 3 kali,” ucap Adi saat menyempatkan berbincang dengan kumparan, belum lama ini.
Tak cuma aneka rasa serabi yang unik. Di kedai mungil miliknya, Adi juga memasang kode QR Standar Indonesia (QRIS) sebagai alternatif pembayaran. Jurnalis kumparanBISNIS, Erandhi Hutomo, mencobanya langsung. Ia membayar serabi langsung lewat QRIS di ponsel, tanpa menukar rupiah ke yen terlebih dahulu.
Seusai memindai barcode, halaman di mobile banking akan langsung menunjukkan berapa nominal yen yang harus dibayar. Setelahnya, akan langsung terkonversi ke mata uang rupiah dan berapa nilai kursnya. Saat itu, serabi seharga 550 yen langsung terkonversi menjadi Rp 63.376 dengan kurs Rp 115 per yen Jepang.
Pengalaman memakai QRIS di Kichijoji bukan satu-satunya. Selama di Tokyo, Erandhi mencoba QRIS di sejumlah tempat. Seperti di Kopi Kalyan, kedai kopi asal Indonesia di kawasan Harajuku.
Ia membayar secangkir es kopi susu dan roti panggang dengan memindai kode QRIS di kasir. Transaksi berjalan cepat dan mudah. Begitu pula ketika membeli teh di Antre Tokyo Shibuya.
Tak cuma di toko makanan atau minuman, QRIS telah tersedia di toko-toko suvenir maupun tempat wisata. Ketika membeli suvenir di Tokyo Print Kobo di Tokyo Tower, jurnalis kumparanBISNIS juga menggunakan pembayaran QRIS. Bahkan saat berwisata ke kuil Sensoji di Asakusa, QRIS juga sudah tersedia sebagai alat pembayaran.
Pengunjung kuil bisa membayar omikuji, undian ramalan nasib yang menjadi tradisi di kuil Jepang, seharga 100 yen dengan memindai kode QRIS. Panduannya sederhana, cukup cari barcode yang memiliki logo JPQR, lalu pindai dengan aplikasi perbankan atau pembayaran lainnya.
Makin Diminati Turis Indonesia
Adi bercerita, QRIS di tempatnya telah dipasang tak lama usai kebijakan QRIS Cross Border di Jepang resmi diluncurkan Bank Indonesia (BI) pada 17 Agustus 2025. Adi menyatakan, metode pembayaran QRIS memudahkan para turis Indonesia. Terbukti, hampir seluruh pengguna QRIS di tempatnya merupakan pembeli asal Indonesia.
Adi menilai pemakaiannya akan lebih besar bila makin banyak tempat di Jepang yang menyediakan QRIS.“Untuk QRIS, mayoritas memang dari orang Indonesia. Yang pakai kebanyakan turis Indonesia,” kata Adi.
Bukan hanya di pinggiran Tokyo, QRIS juga hadir di Shibuya, kawasan yang dikenal sebagai magnet turis dari seluruh negara. QRIS tersedia di Cinta Jawa Cafe, sebuah kedai yang menyediakan aneka masakan Jawa dan memiliki tujuh cabang di Jepang.
Pemiliknya, Sri Astuti, menyebut sekitar 70 persen pengunjung cabang Shibuya adalah orang Indonesia, 20 persen orang Jepang, dan 10 persen warga asing lain. Saat akhir pekan atau libur panjang, antrean di kedainya bisa mencapai 2-3 jam.
Perempuan yang kerap disapa Ringo itu berujar, seluruh cabang kafenya sudah menyediakan QRIS. Ia menilai sosialisasi QRIS di Jepang perlu digencarkan. Sebab masih banyak turis Indonesia yang belum menyadari kalau QRIS bisa dipakai di Jepang. Padahal, QRIS punya nilai lebih dan memudahkan pemilik usaha.
“Secara operasional QRIS memudahkan. Kita sudah zaman digital, tidak perlu bawa uang tunai, apalagi lewat HP langsung bisa. Kalau lebih banyak yang tahu, mungkin lebih banyak yang menggunakan,” ujar Sri yang berencana membuka gerai baru di Osaka, Fukuoka, dan Nagoya.
Bergeser ke kawasan padat turis lainnya, QRIS juga telah merambah Jingumae, sebuah distrik di dekat Harajuku. Di sana, QRIS tersedia di kedai Kopi Kalyan. Country Director Kopi Kalyan Tokyo, Kenny Erawan Cahyadi, menyebut pengguna QRIS di gerainya merupakan salah satu yang tertinggi di Jepang, sebagian besar turis Indonesia.
“Kalau warga setempat mungkin ada yang minat, pengin coba pakai. Tapi kebanyakan turis-turis yang berdatangan pakai QRIS,” ujarnya.
Menurut Kenny, QRIS sangat nyaman dipakai sebagai alat pembayaran dan pembeli tidak perlu membawa uang tunai yen terlalu banyak.
“QRIS sangat convenient untuk pembayaran. Karena kalau habis yennya atau gimana, mau coba pakai QRIS juga bisa. Pemakaiannya cukup seamless, cepat, dan bukan cuma bank-bank besar saja, GoPay pun atau segala payment bisa dipakai,” ucapnya.
Ia menyebut porsi pembayaran dengan QRIS dalam total transaksi gerainya sudah mencapai 10-15 persen. “Di seluruh outlet di Jepang, penggunaan tunai sudah turun ke 30 persen. Sisanya kartu, lalu electronic payment di Jepang, dan QRIS,” ujarnya.
Ia pun berharap QRIS di Jepang terus berkembang menjadi alat pembayaran favorit bagi turis Indonesia.
“Saya yakin dengan makin bertambahnya diaspora Indonesia atau turis Indonesia yang datang ke Jepang, QRIS ini akan jadi salah satu payment option yang lumayan dipakai. Ke depannya banyak toko di Jepang yang bisa pakai. Jadi kita bisa kasih tahu seberapa convenient pakai QRIS ini,” kata Kenny.
Sementara itu Yuki Onishi, pemilik Euki Nusantara di Osaka, Jepang, turut berperan aktif dalam mendorong perluasan akseptasi QRIS Antarnegara di Jepang.
Upaya tersebut dilakukan melalui penyediaan fasilitas pembayaran JPQR di coffee shop miliknya di Osaka, serta pengenalan secara proaktif mengenai pemanfaatan QRIS Antarnegara kepada pelaku usaha coffee shop lainnya di wilayah Kansai.
Transaksi QRIS di Jepang Tumbuh 95 Persen
Kesan para pemilik usaha di Jepang itu sejalan dengan data bank sentral. Bank Indonesia mencatat transaksi QRIS Indonesia outbound di Jepang pada triwulan II 2026 naik 95 persen dibanding triwulan sebelumnya.
Salah satu pendorongnya adalah arus pelancong. Data Japan National Tourism Organization (JNTO) menunjukkan kunjungan dari Indonesia ke Jepang pada Januari-Agustus 2026 mencapai sekitar 451,2 ribu orang, naik 11,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Kita akan tingkatkan dengan cara mensosialisasikan QRIS ini, kemudian meningkatkan perluasan merchant yang bisa menerima QRIS,” ujar Deputi Gubernur BI, Ricky P. Gozali, di Tokyo.
Peningkatan transaksi itu tak lepas dari kerja sama yang baik antara BI dengan Payments Japan Association (PJA). Ricky menyebut, QRIS Cross Border juga telah tersedia di Malaysia, Singapura, China, dan Thailand dengan pertumbuhan yang signifikan.
Ia berharap hal serupa terjadi di Jepang karena hubungan ekonomi kedua negara yang besar.
“QRIS akan membantu transaksi yang dilakukan antara kedua negara, cross-border payment, sehingga akan melakukan perbaikan dalam sisi efisiensi, keamanan, kecepatan, tentunya QRIS akan cepat berkembang,” ujar Ricky.
Puluhan Merchant Tersebar dari Tokyo sampai Okinawa
Perluasan merchant yang disebut Ricky sudah mulai terlihat. Berdasarkan daftar yang dirilis BI, QRIS Antarnegara di Jepang kini bisa dipakai di puluhan merchant. Daftar itu mencatat 25 titik di tujuh wilayah.
Tokyo memiliki titik terbanyak, sebanyak 18 merchant. Selain tempat-tempat yang telah dikunjungi jurnalis kumparanBISNIS, tempat lainnya di Tokyo yang menyediakan QRIS antara lain Cabe Meguro di Meguro, Halal Wagyu Ramen Shinjuku-Tei di Ginza-Shinjuku, hingga Kuta Bali Cafe di Harajuku-Hachioji.
QRIS juga menjangkau pengunjung bandara lewat Edo Event-Kan dan Edo-Shokuhinkan di Bandara Haneda.
Di luar Tokyo, QRIS tersedia di dua merchant di Osaka, yaitu Cafe Bintang di Dotonbori-Shinsaibashi dan Euki Coffee and Cacao di Awaza. Adapun di Kyoto, QRIS tersedia di Yoshiyai Arashiyama. Bahkan di prefektur paling terluar di Jepang, Okinawa, QRIS juga telah tersedia di Shuri Chinen Seika Ishimine di Naha.
Di luar tempat-tempat itu, BI menyatakan perluasan merchant akan terus dilakukan. Perluasan difokuskan di lokasi strategis dan destinasi yang sering dikunjungi masyarakat Indonesia.
Langkah itu disertai edukasi dan promosi. BI juga memperkuat sinergi dengan PJA, penyedia jasa pembayaran, acquiring agents, mitra industri Jepang, dan Kedutaan Besar RI (KBRI) di Tokyo agar penggunaan QRIS makin meningkat.
