Belum Ada Keputusan Tesla Investasi di Indonesia, Ini Rayuan Jokowi ke Elon Musk
·waktu baca 2 menit

Presiden Jokowi mengatakan belum ada keputusan dari produsen mobil listrik asal AS, Tesla terkait investasi di Indonesia. Meski begitu, tim dari Tesla sudah datang ke Indonesia untuk memeriksa potensi nikel.
“Belum ada keputusan,” ungkap Jokowi dalam wawancara bersama CNBC yang dikutip, Selasa (21/6). Jokowi pun bercerita tentang pertemuannya dengan CEO Tesla, Elon Musk bulan lalu setelah Presiden AS Joe Biden menjadi tuan rumah pertemuan puncak para pemimpin Asia tenggara.
Saat itu, Kepala Negara menyarankan agar Tesla dapat membuat seluruh rantai pasokannya di Indonesia.
“Kami melakukan banyak diskusi, terutama tentang bagaimana Tesla dapat membangun industrinya dari hulu ke hilir, end-to-end mulai dari smelter kemudian membangun industri katoda dan prekursor, membangun baterai EV (mobil listrik), membangun baterai lithium dan kemudian pabrik kendaraan. Semuanya ada di Indonesia, karena itu sangat efisien. Itu yang saya tawarkan,” jelas Jokowi.
Untuk itu, Elon Musk juga sudah mengirimkan timnya ke Indonesia enam minggu lalu untuk memeriksa potensi nikel untuk memeriksa aspek lingkungan. “Tetapi tim terkait mobil belum datang,” tambahnya.
Pemerintah juga mengatakan, Tim Tesla bisa mengunjungi Indonesia kembali dalam waktu dekat untuk mengevaluasi potensi investasi. Di saat yang sama, Jokowi juga mengundang Musk ke KTT G-20 yang akan diselenggarakan di Bali pada tahun ini.
Jokowi Ingin Bangun Ekosistem Industri untuk Baterai Listrik
Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia tenggara memiliki cadangan timah, tembaga, nikel, kobalt, dan bauksit yang melimpah, beberapa di antaranya merupakan bahan utama untuk baterai kendaraan listrik.
Atas hal tersebut, Presiden menginginkan adanya nilai tambah yang didapat Indonesia. Maka itu, di bawah kepemimpinannya Indonesia telah melarang ekspor komoditas utama seperti Nikel di 2022 dan Batu Bara di 2021.
“saya pikir itu bukan proteksionisme. Tapi kita ingin nilai tambah itu ada di Indonesia. Jika kita tetap mengekspor bahan mentah, yang mendapat nilai tambah adalah negara lain,” ujarnya.
Dalam upaya untuk meningkatkan ekonominya dan memanfaatkan sumber daya alamnya untuk manufaktur dalam negeri, Indonesia ingin menjauh dari ekspor bahan mentah. Ia juga ingin menjadi pemain global dalam baterai EV dan produsen mobil listrik.
“Kami ingin membangun ekosistem industri untuk baterai lithium,” kata Jokowi. Dengan alasan ini juga akan menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan pendapatan pajak.
