Berita Populer: Harga BBM Didesak Turun hingga Trader Nyaris Bangkrut

Pemberitaan mengenai harga BBM dalam beberapa hari ini sangat ramai dibaca. Harga BBM didesak turun lantaran harga minyak yang anjlok hingga sempat minus, level terendah dalam sejarah.
Selain itu, pembaca kumparan juga banyak yang membaca mengenai program listrik gratis dan perkembangan terbarunya, yaitu PLN tidak mampu memberikan keringanan bagi pelanggan 1.300 VA. Selain itu, ada berita mengenai harga minyak anjlok yang membuat trader Singapura nyaris bangkrut.
Berikut rangkuman berita populer, Rabu (22/4).
Harga BBM Didesak Turun, Apa Jawaban Pertamina?
Harga BBM Indonesia didesak untuk turun. Sebab, saat ini harga minyak dunia memang sedang terpuruk. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun sejak 18 Maret 2020 alias lebih dari sebulan lalu sudah memberi arahan agar harga BBM diturunkan.
Dikutip dari oilprice.com, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) pada Selasa (21/4) sempat negatif menjadi minus USD 14,08 per barel pagi ini. Harga minyak Mars US juga sempat minus USD 30,03 per barel.
Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman, menjelaskan bahwa harga minyak hari ini memang tidak langsung berdampak pada harga BBM di Indonesia. Tapi bukan berarti harga BBM tak perlu turun. Sebab, penurunan harga minyak sudah terjadi lebih dari 2 bulan lalu.
Harga BBM diatur berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 62 Tahun 2020 yang ditandatangani Menteri ESDM Arifin Tasrif pada 27 Februari 2020.
Menurut aturan ini, harga BBM ditetapkan berdasarkan rata-rata harga minyak bensin di pasar dunia yang dipublikasikan pada MOPS (Mean of Platts Singapore) atau Argus periode tanggal 25 pada 2 bulan sebelumnya sampai dengan tanggal 24 pada 1 bulan sebelumnya. Artinya, harga BBM di bulan April dihitung berdasarkan MOPS pada 25 Februari sampai 24 Maret 2020. Dan juga harga rata-rata kurs (kurs tengah BI) pada periode yang sama.
"Kalau merujuk perhitungan formula harga eceran BBM terbaru menurut Keputusan Menteri ESDM Nomor 62 K/10/MEM/2020, maka harga gasoline 92 menurut publikasi MOPS atau Argus seharusnya Pertamina sudah menetapkan harga Pertamax RON 92 di sekitar Rp 5.350 per liter mulai tanggal 1 April 2020," kata Yusri kepada kumparan, Selasa (21/4).
Lalu, bagaimana respons Pertamina?
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, belum turunnya harga BBM karena kebijakan tersebut berada di tangan Kementerian ESDM. Peran Pertamina sebagai BUMN juga tak bisa asal mengambil keputusan secara bisnis.
Meskipun harga minyak dunia anjlok bahkan hingga minus, Pertamina tak bisa memangkas belanja modal perusahaan dan biaya operasional (capital dan operation expenditure) begitu saja. Sebab, biaya produksi BBM di dalam negeri lebih mahal dibandingkan harga minyak impor saat ini.
"Secara garis besar saja, penjelasan kenapa kok BBM tidak turun? Pertama, formula harga BBM ditetapkan oleh Kementerian ESDM. Lalu bagaimana dari sisi Pertamina? Jadi, kalau kita sebagai trading company, memang mudah sekali ketika harga BBM yang kita beli murah, maka langsung bisa kita jual. Tapi Bapak Ibu pahami, sebagai BUMN kami tidak bisa setop produksi kilang dan produksi hulu," kata dia dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI yang digelar secara online, Selasa (21/4).
Nicke menjelaskan, biaya pokok produksi minyak mentah Pertamina di dalam negeri lebih tinggi 25 persen dibandingkan harga minyak dunia saat ini. Sudah setahun ini, Pertamina juga diminta menyerap 100 persen produksi minyak mentah dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Jika Pertamina berhenti membeli minyak mentah dalam negeri, maka kegiatan operasional KKKS di dalam negeri bisa terganggu. Ini akan menimbulkan efek tak sehat dalam bisnis hulu migas di dalam negeri. Karena itu, perusahaan meminta adanya insentif ke pemerintah agar bisa membeli minyak dari dalam negeri dengan harga murah.
"Dan crude dalam negeri kan rata-rata memang lebih tinggi. Ini kita lagi diskusikan dengan Kementerian ESDM bagaimana supaya kami tetap menyerap tapi diberikan relaksasi harga, ini sedang dilakukan," ujarnya.
Hal sama juga terjadi pada biaya pokok produksi BBM Pertamina dari kilang sendiri yang tidak mungkin bisa lebih murah dari harga BBM impor saat ini.
Harga BBM impor saat ini lebih murah dari harga saat Pertamina membeli minyak mentah di pertengahan Maret, yakni USD 24 per barel. Sementara harga BBM sekarang cuma USD 22,5 per barel.
Dari kacamata bisnis, kata dia, memang saat ini lebih baik menutup semua kilang dan impor BBM saja. Tapi, sebagai BUMN, perusahaan tak bisa melakukan itu. Menutup semua kilang akan berdampak pada nasib puluhan ribu karyawan Pertamina.
"Jadi antara keputusan bisnis dan keputusan Pertamina sebagai BUMN motor penggerak ekonomi nasional sekarang jadi berbeda. Tapi kami harus cari jalan tengah. Bagi kami sih secara bisnis, lebih baik kami stop saja kilang, tapi tidak bisa. Jadi kami coba balance peran secara bisnis yang bisa berikan terbaik ke masyarakat," tutupnya.
PLN Tak Mampu Beri Keringanan Biaya Listrik untuk Pelanggan 1.300 VA
PT PLN (Persero) telah memberi keringanan biaya listrik untuk 31 juta pelanggan. Rinciannya yaitu listrik gratis selama 3 bulan untuk 24 juta pelanggan 450 VA dan diskon 50 persen selama 3 bulan untuk 7 juta pelanggan 900 VA bersubsidi.
Ada usulan agar PLN memberikan keringanan juga kepada para pelanggan listrik 900 VA nonsubsidi dan 1.300 VA. Namun, PLN mengaku tidak mampu. Terlebih jika diskon itu dibebankan kepada PLN.
"Kemampuan PLN sendiri kami ingin sampaikan, itu akan sangat sulit. Karena kami enggak ada kemampuan untuk berikan insentif," ujar Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI yang digelar secara online, Rabu (22/4).
Pihaknya pun mengatakan, hingga saat ini belum ada keputusan pemerintah untuk kebijakan tersebut. Namun demikian, ketika ternyata nantinya ada ketetapan itu maka PLN siap menjalankan.
"Apabila di masa yang akan datang ada keputusan pemerintah terkait itu, akan kami laksanakan," tegasnya.
Biaya untuk memberi keringanan kepada pelanggan listrik 1.300 VA dan 900 VA nonsubsidi, kata dia, memang tak murah. Hitungannya, setidaknya mesti disiapkan dana sekitar Rp 16,9 triliun setiap bulan.
"Pasti, sudah barang tentu PLN enggak bisa laksanakan (kalau pakai uang PLN)," ucapnya.
Harga Minyak Anjlok, Trader Singapura Nyaris Bangkrut Sembunyikan Rugi Rp 12,4 T
Harga minyak mentah di pasar dunia terpuruk sepanjang 2020 ini, hingga membuat trader (pedagang) di Singapura nyaris bangkrut. Pada perdagangan Senin (20/4) waktu Amerika Serikat, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) bahkan sempat di level negatif USD 14,08 per barel.
Di tengah gonjang-ganjing harga minyak dunia, salah satu pedagang minyak terkemuka di Singapura, Hint Leon Trading Pte Ltd (HLT), ketahuan telah menyembunyikan kerugian sebesar USD 800 juta atau sekitar Rp 12,4 triliun (Kurs Rp 15.530).
Dikutip Reuters dari dokumen di Pengadilan Tinggi Singapura, kerugian HLT sebesar itu terakumulasi selama beberapa tahun, namun tak dilaporkan. HLT berurusan dengan pengadilan, untuk mengajukan persetujuan restrukturisasi utangnya di bank.
HLT bersama anak perusahaannya, Ocean Tankers Ltd, memiliki utang sebesar USD 3,85 miliar dari 23 bank. Saat ini, perusahaan sedang berupaya mendapat penundaan pembayaran utang tersebut, setidaknya selama 6 bulan.
Perusahaan perdagangan minyak HLT, didirikan oleh Lim Oon Kuin, warga negara Singapura berusia 77 tahun. Pria yang dikenal dengan sapaan OK Lim itu, membuat HLT dikenal sebagai salah satu trader minyak terbesar di Asia Tenggara.
Dari laporan keuangan 2019 yang berakhir Oktober lalu, HLT melaporkan raihan laba bersih USD 78,2 juta. Pada kenyataannya, perusahaan justru merugi USD 800 juta.
Putra satu-satunya Lim, Evan Lim Chee Meng, dalam dokumen yang lain menyebutkan bahwa ayahnya menjual stok minyak perusahaan dan menggunakan hasil penjualan itu untuk operasional perusahaan. HLT juga menjaminkan stok minyak yang dibeli dari pasar berjangka, untuk mendapat kredit bank.
***
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona
