Kumparan Logo

BI Berpotensi Turunkan Suku Bunga, Ini Proyeksi Ekonom

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Bank Indonesia Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bank Indonesia Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Bank Indonesia (BI) hari ini akan mengumumkan hasil rapat dewan gubernur. Meski demikian, sejumlah ekonom telah memberikan proyeksi terhadap suku bunga acuan BI atau BI 7 day Repo Rate selama Mei 2020.

BI memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga. Inflasi yang rendah dan rupiah yang stabil bisa menjadi faktor agar bank sentral menurunkan bunga acuan. Namun ketidakpastian mengenai pandemi COVID-19 bisa menjadi pemicu untuk BI menahan bunga acuan yang saat ini 4,5 persen.

Adapun selama April 2020, laju inflasi hanya 0,08 persen (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya 0,10 persen (mtm).

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdasarkan data JISDOR juga mulai stabil Rp 14.885 per dolar AS pada 18 Mei 2020, menguat dibandingkan pada April 2020 yang sempat menyentuh Rp 16.741 per dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Foto: Dok. Departemen Komunikasi Bank Indonesia.

Ekonom PT Bank Danamon Tbk Wisnu Wardhana mengatakan, saat ini bank sentral memiliki ruang untuk menurunkan bunga acuan. Namun menurutnya, bulan ini BI masih akan mempertahankan suku bunga 4,5 persen.

“Jika stabilitas eksternal ini berlanjut, maka bank sentral mungkin memiliki ruang untuk memangkas suku bunga kebijakan lebih lanjut. Namun menurut kami, untuk bulan ini masih menahan,” ujar Wisnu dalam risetnya, Selasa (19/5).

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Ryan Kiryanto memproyeksi BI akan kembali menahan bunga acuan 4,5 persen di bulan ini. Apalagi bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, seperti quantitative easing, dinilai mulai terasa di sektor riil dan perbankan.

“Saya juga condong BI menahan BI Rate tetap di level 4,5 persen, lantaran relaksasi kebijakan BI, termasuk quantitative easing (QE) BI sebesar Rp 508 triliun mulai bergulir untuk mendorong kegiatan sektor riil dan perbankan,” tuturnya.

Ryan menjelaskan, BI kemungkinan baru akan menurunkan BI 7 day Repo Rate pada Juni atau Juli mendatang.

“Kalau pun sekiranya bulan Mei ini BI belum akan menurunkan BI Rate, mungkin di Juni atau Juli BI baru punya timing yang tepat untuk menurunkan BI Rate 25 bps ke 4,25 persen,” jelas dia.

Seorang Petugas Teller PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. sedang menghitung uang kertas di Kantor Cabang Harmoni, Jakarta, Senin (18/5). Foto: Dok. BTN

Sementara itu, Peneliti Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan Eric Sugandi memproyeksi BI akan menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 4,25 persen di bulan ini. Saat ini, katanya, waktu yang tepat bagi bank sentral untuk memangkas bunga acuan.

“Saya expect BI cut 25 bps ke 4,25 persen, karena rupiah dalam posisi sedang menguat dan inflasi relatif rendah dan terkendali,” jelasnya.

Pemangkasan suku bunga dinilai Eric mampu memberikan bantuan dari sisi moneter untuk pemulihan ekonomi.

“Dengan pemangkasan BI 7 DRR ini, BI memberikan bantuan dari sisi moneter untuk dorong pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Ekonom PT Bank Permata (Tbk) Josua Pardede juga memperkirakan BI akan menurunkan suku bunga 0,25 persen menjadi 4,25 persen. Indikator inflasi yang rendah dan nilai tukar rupiah yang stabil dinilai cukup untuk BI melonggarkan kebijakan moneter suku bunga.

Selain itu, “penurunan daya beli masyarakat yang terindikasi dari rendahnya inflasi di sisi permintaan, perlu direspons dengan penurunan suku bunga acuan BI. Sehingga dapat mendukung proses pemulihan ekonomi Indonesia pasca pandemi COVID-19,” kata Josua.

Vice President Economist Permatabank Josua Pardede. Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan

Pada bulan lalu, Gubernur BI Perry Warjiyo memutuskan untuk menahan suku bunga acuan 4,5 persen. Suku bunga deposit facility juga dipertahankan sebesar 3,76 persen dan suku bunga lending facility sebesar 5,25 persen.

Perry menyebut, keputusan tersebut telah mempertimbangkan stabilitas eksternal di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih relatif tinggi, termasuk stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

"Meskipun Bank Indonesia tetap melihat adanya ruang penurunan suku bunga dengan rendahnya tekanan inflasi dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi," jelas Perry, Selasa (14/4).