Kumparan Logo

BI Gelar Pameran Ecophilia, Ajak Masyarakat Mengenal Ekonomi Hijau

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana pameran temporer yang diselanggarakan oleh Bank Indonesia di Museum Bank Indonesia. Foto: Argya D. Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pameran temporer yang diselanggarakan oleh Bank Indonesia di Museum Bank Indonesia. Foto: Argya D. Maheswara/kumparan

Bank Indonesia (BI) menyelenggarakan pameran bertajuk Ecophilia, yang mengajak masyarakat sadar akan pentingnya lingkungan dan mengenal ekonomi hijau. Pameran tersebut diselenggarakan pada 11 Desember 2025 sampai 15 Februari 2026 di Museum BI, Jakarta Pusat.

“Pemilihan tema ini kan tentunya bagaimana kita mengintensifkan antara perilaku kita terhadap alam dan alam juga tentunya akan kemudian melindungi kita juga, jadi kita melindungi alam, alam melindungi kita. Dengan kita melakukan hal ini sekarang tentunya akan melindungi generasi ke depan,” kata Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, usai membuka pameran Ecophilia di Museum BI, Jakarta Pusat, Rabu (10/12).

Anton berharap dengan adanya pameran ini, masyarakat dapat lebih mengenal potensi ekonomi hijau yang dimiliki Indonesia. Ia juga optimistis perekonomian hijau dapat terus berkembang ke depannya.

Selain BI, pameran ini juga melibatkan berbagai pihak mulai dari Prodi Desain Interior Universitas Pelita Harapan, Bank Sampah Budi Luhur, Jejakin, Boolet, PT Polindo Utama sampai berbagai UMKM.

Para UMKM tersebut juga turut memamerkan hasil karya mereka yang berasal dari bahan alam seperti sabun, shampo sampai tas dan kerajinan lainnya.

Terdiri dari 6 Zona, Ada Kalkulator Karbon

Suasana pameran temporer yang diselanggarakan oleh Bank Indonesia di Museum Bank Indonesia, Jakarta Pusat. Foto: Argya D. Maheswara/kumparan

Pameran ini terdiri dari 6 zona yakni Zona 1 Lorong Ecophilia: Gerbang Menuju Hati Bumi, Zona 2 Pelataran: Harmoni Ekosistem, Zona 3 Rupa Indah: Kepingan Surga Nusantara, Zona 4 Krisis Bumi: Waktu Kita Hampir Habis!, Zona 5 Aksi Bersama: Kita untuk Lingkungan, dan Zona 6 Koda: Janji Hijau.

Dalam setiap zonasi juga ditampilkan materi edukasi, koleksi uang rupiah yang sejalan dengan tema zonasi, sampai multimedia interaktif untuk pengunjung. Ketika pengunjung masuk, mereka akan diajak melihat berbagai keindahan alam Indonesia yang tercetak dari mata uang dari masa ke masa. Salah satu media interaktif yang tersedia juga adalah kalkulator karbon.

“Kami mencoba berinisiasi sekaligus edukasi mengenai kebijakan Bank Sentral, Bank Indonesia yang kebetulan juga ada yang berkaitan dengan lingkungan, yaitu kalkulator hijau, kami namakan kalkulator hijau, sebagai bagian dari edukasi. Nah, di samping itu kami memanfaatkan ruang publik ini, museum ini, untuk mengajak bersama-sama generasi muda,” ujar Anton.

Direktur Departemen Ekonomi Inklusif dan Hijau BI, Kurniawan Agung W, mengungkapkan dalam implementasinya, kalkulator hijau bisa digunakan oleh korporasi baik kecil, mikro, menengah sampai besar untuk menghitung emisi karbon yang dihasilkan.

“Misalnya bahan bakar untuk diesel, bensin gitu kan. Kalau misalnya pengusaha kecil kan enggak tahu ini kira-kira habis berapa ya emisinya. Tapi mereka bisa mencatat dari memasukkan angka kira-kira dalam satu bulan itu, dalam satu minggu atau pun satu bulan, untuk bensin seberapa. Nah nanti otomatis kalkulator itu akan mengkonversi kira-kira oh habisnya sekian,” tutur Kurniawan.

Nantinya, pameran ini juga akan dilengkapi dengan berbagai side event seperti kegiatan bersih-bersih area Kota Tua, eksplorasi dan edukasi bertema lingkungan, Night At MuBI atau bermalam di museum, talkshow dan workshop seputar lingkungan sampai walking tour sejarah sanitasi lingkungan era kolonial.