Kumparan Logo

BI Imbau Masyarakat Tak Panik Borong Dolar AS di Tengah Pelemahan Rupiah

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026).  Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Bank Indonesia (BI) mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru memborong dolar AS di tengah tekanan yang dialami nilai tukar rupiah. Otoritas moneter menilai perilaku panic buying di pasar valuta asing dapat memperbesar tekanan terhadap kurs karena mendorong lonjakan permintaan yang tidak sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan riil.

Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (22/5), pukul 12.45 rupiah melemah 44,50 poin atau 0,25 persen di level Rp 17.711 per dolar AS.

Di tengah pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah money changer mulai mencatat kenaikan permintaan dolar AS. Fenomena tersebut muncul karena sebagian masyarakat khawatir pelemahan rupiah masih akan berlanjut sehingga harga dolar ke depan diperkirakan semakin mahal.

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy Intama menjelaskan, kondisi tersebut tidak terlepas dari faktor psikologis yang biasa terjadi ketika pasar berada dalam situasi ketidakpastian.

Dalam kondisi seperti itu, keputusan membeli dolar seringkali tidak sepenuhnya dipengaruhi kebutuhan aktual, melainkan lebih didorong rasa khawatir kehilangan kesempatan memperoleh harga yang lebih murah. Ketika masyarakat melihat nilai tukar terus bergerak naik, muncul persepsi bahwa pembelian harus segera dilakukan sebelum harga semakin mahal.

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy Intama. Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Psikologi pasar seperti itu, menurut BI, dapat menciptakan efek berantai. Ketika satu kelompok masyarakat mulai membeli dolar karena khawatir kurs terus naik, kelompok lain berpotensi mengikuti langkah yang sama. Akibatnya, permintaan meningkat secara bersamaan dan justru memperkuat sentimen negatif di pasar.

Ruth menggambarkan situasi itu mirip dengan perilaku masyarakat saat menghadapi situasi darurat, misalnya ketika pandemi COVID-19. Saat itu, banyak orang membeli kebutuhan pokok dalam jumlah besar karena takut kehabisan barang.

“Mungkin sebelumnya adalah risiko beli ya transaksi spot gitu ya namanya orang ya kalau panik. Kita aja deh kalau misalnya waktu Covid-19, apa sih yang dibeli oleh ibu-ibu? Pasti kan langsung nyiapin bahan makanan gitu ya, di rumah itu pasti langsung beras minyak gitu ya,” kata Ruth kepada wartawan di Makassar, Jumat (22/5).

Menurut dia, perilaku serupa juga dapat terjadi di pasar valuta asing. Misalnya, orang tua yang memiliki anak di luar negeri, bisa saja memutuskan membeli dolar lebih cepat karena khawatir biaya kebutuhan anaknya meningkat jika rupiah terus melemah.

Hal yang sama juga bisa terjadi pada pelaku usaha yang memiliki kewajiban pembayaran dalam valuta asing, khususnya importir. Saat melihat tren rupiah melemah, pelaku usaha dapat langsung memperkirakan bahwa biaya pembayaran ke depan akan menjadi lebih besar jika dikonversi ke rupiah.

Layar monitor menampilkan kurs jual dan beli Rupiah terhadap dolar AS saat petugas melayani pelanggan di sebuah gerai penukaran mata uang di Jakarta (12/5/2026). Foto: Bay Ismoyo/AFP

Ruth menjelaskan pelaku usaha yang memiliki kewajiban pembayaran impor tentu akan berupaya mengantisipasi risiko kenaikan biaya tersebut. Kekhawatiran itulah yang kemudian dapat mendorong pembelian dolar lebih awal.

“Nasabahnya punya kewajiban membayar valuta asing karena dia impor, katakanlah gitu ya. Dengan tren pelemahan misalnya, dia langsung pikir nanti kalau rupiahnya melemah terus gimana gitu ya,” ujarnya.

Meski demikian, BI menilai masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan dolar di pasar. Menurut Ruth, likuiditas valuta asing, termasuk untuk kebutuhan money changer atau KUPVA (Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing), tetap tersedia.

Ia mengatakan mekanisme pasar tetap berjalan karena ketika permintaan meningkat, akan ada pihak yang menyediakan pasokan.

“Pada dasarnya kalau saya boleh mengatakan harusnya likuiditas terhadap dolar yang dibutuhkan oleh money changer atau KUPVA saat ini harusnya ada, dan Bank Indonesia juga kan meyakinkan ya bahwa likuditasnya itu pasti ada gitu,” ujar Ruth.

BI juga terus menempuh berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar pelemahan tidak berlangsung berkepanjangan. Di sisi lain, Ruth meminta peran berbagai pihak untuk membantu meredam kepanikan masyarakat agar ekspektasi negatif tidak semakin membesar.

Menurut dia, pembelian dolar sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan, bukan semata-mata karena kekhawatiran pasar. “Jadi kalau kamu masih butuhnya nanti, enggak usah kamu beli sekarang,” kata dia.

Sebelumnya, sejumlah money changer mengakui terjadi peningkatan permintaan dolar AS di tengah pelemahan rupiah. Salah satu penjaga money changer di Jakarta Selatan, Bimo, mengatakan sebagian besar pelanggan saat ini datang untuk membeli dolar AS.

Menurut dia, peningkatan tersebut dipicu oleh ekspektasi sebagian masyarakat bahwa pelemahan rupiah masih akan berlanjut. Bahkan muncul asumsi di pasar bahwa kurs dolar AS dapat menembus Rp 20.000 per dolar AS.

"Demand-nya memang lagi banyak yang nyari. Mungkin karena isunya kan bakalan naik ke Rp 20.000 (per dolar AS). Kita enggak tahu bakal bener atau enggak," katanya.

Pundimas Money Changer di Plaza Sentral, Jakarta Selatan. Foto: Ghifari/Kumparan

Bimo mencatat tren pembelian dolar di tempatnya meningkat hingga 50 persen dibandingkan periode sebelum rupiah menembus level Rp 17.000 per dolar AS. Menurutnya, saat ini jumlah masyarakat yang membeli dolar lebih banyak dibandingkan yang menjual dolar.

"Secara rasio itu demand yang tinggi atau enggak sama aja menurut saya. Cuma kalau dibandingkan yang jual atau yang beli banyak yang mana, lebih banyak yang beli memang sekarang," jelas Bimo.

instagram embed