BI: Kebijakan Moneter hingga Makroprudensial Dukung Transisi Ekonomi Hijau
·waktu baca 2 menit

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan, pihaknya sangat mendukung transisi menuju ekonomi hijau. Oleh karena itu, kebijakan moneter dan makroprudensial akan diarahkan untuk memberikan dukungan bagi pembiayaan hijau atau berkelanjutan.
Hingga saat ini, lanjut Destry, pihaknya sudah melakukan relaksasi tarif Loan to Value (LTV) bagi bangunan hijau sebesar 100 persen dan down payment (DP) atau uang muka kendaraan listrik hingga 0 persen.
"Pada 2022, BI juga memperkenalkan rasio pembiayaan inklusif makroprudensial untuk meningkatkan minat penerbitan green bond dengan memperbolehkan perbankan memenuhi rasio pembiayaan dengan pembelian green bond," kata Destry dalam Mandiri Sustainability 2022, Rabu (2/11).
Destry menyebut, permintaan green bond di Indonesia sudah meningkat dengan adanya kebijakan tersebut. Hal itu tercermin dari penerbitan sukuk global di tahun 2022 yang mencapai USD 5 miliar, hingga terbitnya SDGs Bond senilai Rp 2,2 miliar.
"Fenomena ini menunjukkan bahwa kebijakan makroprudensial kita (BI) memang berdampak pada pembiayaan hijau," ucap dia.
Di sisi lain, BI juga melakukan operasi moneter yang berhasil menerima kolateral dalam transaksi repo perbankan dalam bentuk green atau sustainable bond. "Oleh karena itu bagi bank-bank yang telah memiliki sustainable atau green bond atau ESG bond, jika bank membutuhkan likuiditas dari bank sentral, maka mereka dapat repo obligasi mereka ke bank sentral dan mereka akan mendapatkan likuiditas rupiah untuk membiayai proyek-proyek berkelanjutan," lanjut Destry.
"Tidak hanya menyelaraskan portofolio, tetapi juga menjanjikan komitmen hijau dengan mengalokasikan sekitar USD 6 miliar dalam bentuk obligasi berkelanjutan, dan ini sekitar 5 persen dari total cadangan devisa kami," pungkas dia.
