Kumparan Logo

BI Lapor Prabowo, Pembelian Dolar AS Dibatasi Jadi USD 25 Ribu demi Jaga Rupiah

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur BI Perry Warjiyo di Istana Negara, Jakarta pada Senin (24/11/2025). Foto: Luthfi Humam/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur BI Perry Warjiyo di Istana Negara, Jakarta pada Senin (24/11/2025). Foto: Luthfi Humam/kumparan

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo melaporkan kondisi rupiah yang semakin tertekan (undervalued) kepada Presiden Prabowo Subianto hingga membeberkan 7 strategi tekan rupiah, termasuk batasi pembelian Dolar AS menjadi maksimal USD 25 ribu per bulan.

Hingga sore hari, rupiah kembali mencetak rekor baru dengan melemah 30 poin (0,17 persen) ke Rp 17.423 per Dolar AS. Melemahnya rupiah terjadi karena tekanan jangka pendek akibat faktor global dan musiman. Hal tersebut disampaikan Perry usai rapat bersama Prabowo dan jajaran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Jakarta, Selasa (5/5).

“Bahwa yang pertama nilai tukar sekarang itu undervalued. Tapi ke depan kita yakini akan stabil dan menguat,” ujar Perry.

Ia menegaskan, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan menjadi dasar optimisme terhadap pergerakan rupiah ke depan. Beberapa indikator yang disorot antara lain pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen, inflasi yang rendah, pertumbuhan kredit yang tinggi, serta cadangan devisa yang kuat.

“Ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat,” katanya.

Namun demikian, Perry mengakui adanya tekanan jangka pendek yang berasal dari eksternal. Ia menyebut kenaikan harga minyak global, tingginya suku bunga Amerika Serikat, dengan imbal hasil atau US Treasury 10 tahun di level 4,47 persen, serta penguatan dolar AS sebagai faktor utama.

Selain itu, tekanan juga dipicu faktor musiman, seperti kebutuhan dolar untuk pembayaran dividen, utang luar negeri, dan kebutuhan jemaah haji pada periode April hingga Juni. “Memang secara musiman April, Mei, Juni ini permintaan terhadap dolar tinggi,” ujarnya.

Tujuh Strategi BI Jaga Rupiah

Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Dalam kesempatan tersebut, Perry juga memaparkan tujuh langkah strategis yang telah mendapat arahan dan restu dari Prabowo untuk menjaga stabilitas rupiah.

Pertama, BI akan terus melakukan intervensi di pasar valas, baik di dalam negeri maupun luar negeri melalui instrumen spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan offshore NDF di pusat keuangan global seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York.

“Kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup,” ujarnya.

Kedua, BI memperkuat aliran masuk modal asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menutup outflow dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham.

Ketiga, BI melanjutkan pembelian di pasar sekunder, yang hingga saat ini telah mencapai Rp 123,1 triliun secara year-to-date. Keempat, menjaga likuiditas perbankan tetap longgar, tercermin dari pertumbuhan uang primer yang mencapai 14,1 persen.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan saat konferensi pers APBN KiTa edisi Mei 2026 di Jakarta, Selasa (5/5/2026). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Kelima, memperketat pembelian valuta asing tanpa underlying. Batas pembelian dolar yang sebelumnya USD 100.000 diturunkan menjadi USD 50.000 per orang per bulan, dan akan kembali ditekan menjadi USD 25.000.

“Sehingga pembelian dolar di atas USD 25.000 itu harus pakai underlying,” kata Perry.

Selain itu, BI juga mendorong penggunaan mata uang lokal, termasuk pengembangan pasar yuan-rupiah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Keenam, memperkuat intervensi di pasar offshore NDF dengan melibatkan bank domestik agar pasokan likuiditas meningkat. Ketujuh, meningkatkan pengawasan terhadap perbankan dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar tinggi, bekerja sama dengan OJK.

Di lokasi yang sama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan pentingnya diversifikasi pembiayaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap Dolar AS.

“Kami juga akan menerbitkan bond dalam mata uang selain Dolar AS dan rupiah. Dalam waktu dekat kita akan masuk ke Panda Bond di China dengan bunga yang lebih rendah,” ujarnya.

Menurutnya, langkah tersebut akan memperkuat struktur pembiayaan dan mendukung stabilitas rupiah. “Jadi prospek kita bagus, teman-teman semua nggak usah takut,” katanya.

Ia juga menyampaikan pesan Prabowo terkait kondisi fiskal pemerintah. “Tadi Pak Presiden juga bilang sama saya suruh sampaikan pesan bahwa uang saya cukup. Duitnya banyak, jadi Anda nggak usah takut,” ujar Purbaya.

instagram embed