BI Pastikan Suku Bunga RI Tetap Menarik bagi Investor Asing

Bank Indonesia (BI) memastikan akan tetap menjaga disparitas antara suku bunga domestik dengan negara-negara maju dan berkembang. Hal ini bertujuan agar instrumen utang berdenominasi rupiah tetap mampu menarik investor asing di tengah tingginya potensi perang suku bunga secara global.
Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan, instrumen tersebut penting dalam menjaga modal masuk untuk membiayai defisit transaksi berjalan. Sehingga dia meyakini, suku bunga acuan Indonesia tak akan tertinggal dengan negara lain.
"Paling penting berikutnya adalah bagaimana menjaga modal masuk, karena bagaimana pun juga defisit (transaksi berjalan) perlu pembiayaan dan akan tertutupi, kalau misalnya aliran modal masuk kita tidak saja dari investasi asing langsung, tapi juga investasi portofolio. Itu pentingnya jaga perbedaan suku bunga," ujar Dody kepada kumparan, Selasa (18/9).
Bank Sentral Turki pada pekan lalu menaikkan suku bunga acuannya hingga 625 basis poin menjadi 24 persen. Selain itu, negara maju lainnya juga diperkirakan akan ikut menaikkan suku bunganya, antara lain Kanada dan Swedia pada kuartal IV 2018, dan AS pada bulan ini dan Desember 2018.
Untuk itu, Dody bilang, BI tetap berkomitmen menerapkan kebijakan yang antisipastif dengan jargon front loading, preemptive, dan ahead of the curve. Suku bunga acuan BI sendiri hingga saat ini telah meningkat 125 basis poin menjadi 5,5 persen.

Namun saat ditanya lebih lanjut mengenai kemungkinan naiknya suku bunga acuan pada bulan ini, Dody enggan menjawab secara spesifik. Dia hanya menegaskan bank sentral akan mempertimbangkan semua faktor eksternal dan domestik.
"Kami punya banyak faktor data-data yang kami lihat bagaimana perkembangan domestik, perkembangan di luar negeri dilihat. Jadi, tidak serta merta suku bunga The Fed naik, kita juga menaikkan suku bunga BI. Lalu, tidak serta merta Turki dinaikkan suku bunganya, kami juga menaikkan. Kami lakukan melihat sisi diferensial suku bunga, kami lihat risiko ke depannya baik risiko di luar dan dalam," jelasnya.
Adapun Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada bulan ini akan dilaksanakan pada 26 - 27 September 2018. Jadwal ini mundur dari RDG yang biasanya dilaksanakan pekan kedua atau ketiga setiap bulannya.
Dody sebelumnya menjelaskan, RDG pada pekan keempat itu khusus untuk menanti keputusan dari komite pasar terbuka Bank Sentral AS (FOMC) 25 - 26 September 2018. Bank Sentral AS, Federal Reserve, diperkirakan pelaku pasar global akan menaikkan suku bunga acuannya yang ketiga kali tahun ini pada rapat tersebut.
