Kumparan Logo

BI: Pembayaran Digital dan Uang Tunai Saling Melengkapi, Bukan Menggantikan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI) Muh. Anwar Bashori dalam gelaran Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026). Foto: Widya Islamiati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI) Muh. Anwar Bashori dalam gelaran Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Bank Indonesia (BI) menegaskan pembayaran digital dan uang tunai atau cash bukan merupakan dua metode yang saling menggantikan. Keduanya tetap dibutuhkan masyarakat dan akan berjalan berdampingan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di masing-masing wilayah Indonesia.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Anwar Bashori mengatakan digitalisasi pembayaran memang terus berkembang, tetapi uang tunai masih diperlukan, terutama di wilayah yang belum memiliki akses jaringan telekomunikasi dan infrastruktur digital yang memadai.

“Digitalisasi sama cash itu bukan sesuatu yang saling menggantikan, tapi saling melengkapi ke depan, dan kita juga punya strategi masing-masing di belahan masing-masing,” kata Anwar di sela-sela gelaran Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (14/8).

Menurut Anwar, kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari sekitar 17 ribu pulau membuat tingkat penggunaan pembayaran digital di setiap wilayah berbeda. Di wilayah dengan tingkat edukasi dan akses digital yang lebih tinggi, seperti Jakarta dan Jawa, penggunaan QRIS terus berkembang.

“Memang kalau kita lihat di Jawa, semakin besar edukasinya di Jakarta, tentunya pertumbuhan digitalisasi, QRIS, luar biasa. Tapi di daerah-daerah yang mungkin edukasinya kurang, networking-nya kurang, itu masih membutuhkan cash yang kita layani,” jelasnya.

Karyawan menunjukkan angka pada kalkulator di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Foto: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan

Anwar menjelaskan, uang tunai tetap harus tersedia di wilayah terpencil dan daerah 3T yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi maupun layanan pembayaran digital seperti QRIS. Menurunnya, ketersediaan rupiah di wilayah tersebut diperlukan agar masyarakat tetap dapat melakukan transaksi.

Uang Pecahan Kecil Masih Dibutuhkan

Selain uang tunai secara umum, BI juga memastikan kebutuhan masyarakat terhadap pecahan uang kecil masih tetap ada. Menurut Anwar, pecahan kecil diperlukan untuk mempermudah penukaran dan transaksi, terutama di pasar tradisional.

Selain itu uang pecahan kecil masih dibutuhkan di berbagai daerah yang belum sepenuhnya terjangkau pembayaran digital. Dengan demikian, BI tetap harus memastikan ketersediaannya.

Kebutuhan uang pecahan kecil juga meningkat pada momen tertentu, salah satunya Ramadan dan Lebaran. Anwar menyebut tradisi masyarakat Indonesia untuk membagikan uang kepada keluarga, terutama anak-anak dan keponakan, membuat kebutuhan uang pecahan kecil tetap ada.

“Indonesia itu punya musim namanya Ramadan dan Lebaran. Semua orang nggak bisa lagi ngomong itu punya yang digital,” imbuhnya.

Menurut Anwar, uang kartal tetap diperlukan karena belum ada negara yang sepenuhnya meninggalkan uang tunai. Pembayaran digital dan uang tunai memiliki fungsi masing-masing dan tidak dapat dipandang sebagai metode yang harus saling menggantikan.

Dia menambahkan, porsi uang non-tunai dalam transaksi saat ini memang sudah lebih besar dibandingkan uang tunai. Namun, keberadaan uang tunai tetap penting karena masih digunakan oleh sebagian masyarakat Indonesia.

“Uang beredar kita itu memang sebagian besar itu adalah non-tunai. Jadi, tunai itu sekitar 20 persen dari uang beredar,” ujar Anwar.

instagram embed