BI Perkirakan Rupiah Menguat ke Rp 16.800-Rp 17.500 per Dolar AS pada 2027
·waktu baca 2 menit

Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai tukar rupiah akan menguat pada 2027 di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS. Proyeksi tersebut lebih kuat dibandingkan posisi rupiah saat ini yang menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan perkiraan tersebut sejalan dengan asumsi makro yang juga digunakan pemerintah dalam penyusunan anggaran tahun depan.
“Mengenai nilai tukar, kami memandang 2027 nilai tukar akan menguat. Rupiah kisarannya sama dengan pemerintah Rp 16.800 sampai Rp 17.500,” kata Perry dalam Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Selasa (9/6).
Perry menjelaskan terdapat lima faktor utama yang diyakini dapat mendorong penguatan rupiah pada 2027. Faktor pertama berasal dari membaiknya kondisi ekonomi global yang diperkirakan tidak lagi menghadapi tekanan sebesar tahun ini. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi meningkat menjadi 3,1 persen.
Selain itu, Perry berharap ketegangan geopolitik di berbagai kawasan mulai mereda. Sehingga dapat mendorong kembali aliran modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Tentu saja kondisi ekonomi tidak akan seburuk tahun ini. Pertumbuhan ekonomi dunia itu akan naik ke 3,1 persen. Tentu saja kondisi-kondisi yang sekarang geopolitik kita harapkan akan meredam dan harapannya akan mendorong inflow ke negara emerging market termasuk Indonesia,” ujar Perry.
Faktor kedua berasal dari fundamental ekonomi domestik yang dinilai tetap kuat. BI melihat pertumbuhan ekonomi yang terjaga, inflasi yang rendah, defisit transaksi berjalan yang terkendali, imbal hasil aset keuangan yang menarik, serta posisi cadangan devisa yang memadai akan menjadi penopang stabilitas rupiah.
“Pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasinya rendah, defisit transaksi berjalan juga rendah, imbal hasilnya menarik, kemudian cadangan devisa juga lebih dari cukup. Jadi fundamental kita akan mendukung penguatan nilai tukar,” ungkap Perry.
Selanjutnya, penguatan rupiah juga diperkirakan mendapat dukungan dari operasional PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai BUMN ekspor. Kehadiran DSI diharapkan dapat meningkatkan kinerja ekspor, memperbesar penerimaan devisa hasil ekspor, serta menambah penerimaan negara.
Peningkatan devisa dari sektor ekspor tersebut dinilai akan memperkuat posisi eksternal Indonesia sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar.
“Sehingga ini akan mendukung tidak hanya pembiayaan bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mendukung kenaikan cadangan devisa dan penguatan nilai tukar rupiah,” terang Perry.
Perry memastikan BI juga akan terus menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan, termasuk intervensi di pasar keuangan. Upaya tersebut diperkuat melalui koordinasi erat antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal pemerintah.
“Jadi lima faktor itu rupiah insyaallah tahun depan akan menguat kisarannya Rp 16.800-17.500,” tutur Perry.
