Kumparan Logo

BI Perkirakan Rupiah Terus Menguat: Optimalkan Seluruh Instrumen Moneter

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Rabu (20/3). Foto: Ave Airizaa Gunanto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Rabu (20/3). Foto: Ave Airizaa Gunanto/kumparan

Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bakal terus menguat. Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah siang ini melemah 51,00 poin (0,32 persen) di Rp 16.128 terhadap dolar AS.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan penguatan nilai tukar rupiah dipengaruhi bauran kebijakan moneter yang ditempuh BI dalam memitigasi dampak rambatan global. Ia menyebut nilai tukar rupiah hingga 16 Juli 2024 menguat 1,21 persen dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2024.

"Penguatan nilai tukar rupiah tersebut dipengaruhi oleh komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan fundamental perekonomian Indonesia yang kuat," kata Perry saat konferensi pers di Gedung Bank Indonesia, Rabu (17/7).

Perry menjelaskan dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah melemah 4,84 persen (ytd) dari level akhir Desember 2023, lebih rendah dibandingkan dengan pelemahan Peso Filipina, Baht Thailand, dan Won Korea yang masing-masing sebesar 5,14 persen, 5,44 persen, dan 7,03 persen.

"Ke depan, nilai tukar rupiah diprakirakan bergerak stabil dalam kecenderungan menguat sejalan dengan menariknya imbal hasil, rendahnya inflasi, dan tetap baiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujar Perry.

Seorang Teller menghitung uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat di Bank Mandiri, Jakarta, Senin (7/1/2018). Rupiah ditutup menguat 1,26 persen menjadi Rp14.085 per satu Dolar AS. Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Perry menegaskan pihaknya juga komitmen untuk terus menstabilkan nilai tukar rupiah yang kemudian mendorong berlanjutnya aliran masuk modal asing.

Selain itu, Bank Indonesia bakal memperkuat koordinasi dengan pemerintah, perbankan, dan dunia usaha untuk mendukung implementasi instrumen penempatan valas Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).

"Bank Indonesia terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter, termasuk penguatan strategi operasi moneter pro-market melalui optimalisasi instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI," ungkap Perry.