Kumparan Logo

BI Proyeksi Transaksi Uang Elektronik Rp 404 T di Akhir 2022, Tumbuh 32,7 Persen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pembeli membayar dengan metode scan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di warung KE Angkringan, Ampera, Jakarta, Jumat (30/7/2021). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pembeli membayar dengan metode scan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di warung KE Angkringan, Ampera, Jakarta, Jumat (30/7/2021). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Bank Indonesia (BI) mencatat, transaksi ekonomi dan keuangan digital mengalami kenaikan. Hal tersebut ditopang oleh meningkatnya akseptasi dan preferensi masyarakat dalam berbelanja daring, perluasan dan kemudahan sistem pembayaran digital, serta akselerasi digital banking.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, nilai transaksi Uang Elektronik (UE) pada kuartal III 2022 tercatat tumbuh 35,79 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Untuk keseluruhan tahun 2022 diproyeksikan meningkat 32,27 persen (yoy) hingga mencapai Rp 404 triliun.

Nilai transaksi digital banking pada kuartal III 2022 meningkat 29,47 persen (yoy). Untuk keseluruhan tahun 2022 diproyeksikan meningkat 30,19 persen (yoy) hingga mencapai Rp 53.144 triliun.

"Untuk mendorong inovasi sistem pembayaran, Bank Indonesia terus melakukan persiapan implementasi QRIS Tarik Transfer Setor (TTS) pasca piloting serta terus melanjutkan perluasan QRIS antarnegara," kata Perry dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (20/10).

Di sisi lain, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) pada triwulan III 2022 meningkat 7,61 persen (yoy). Bank Indonesia terus memastikan ketersediaan uang rupiah dengan kualitas yang terjaga di seluruh wilayah NKRI, termasuk peredaran Uang Rupiah Kertas Tahun Emisi 2022.

"Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan sistem pembayaran dan akselerasi digitalisasi untuk mendorong efisiensi transaksi ekonomi dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi," tandasnya.