Kumparan Logo

BI Sebut Ekonomi Dunia 2026 Diproyeksi Tumbuh Hanya 3% Imbas Perang di Iran

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memberikan kata sambutan dalam peresmian soft launching Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Senin (23/2/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memberikan kata sambutan dalam peresmian soft launching Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Senin (23/2/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sepanjang 2026 masih lemah di level 3 persen.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat setelah reeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada awal Juli 2026.

"Ketidakpastian global kembali meningkat paska reeskalasi intensitas perang antara Amerika Serikat dan Iran pada awal Juli 2026,” ucap Perry saat konferensi pers RDGB Juli 2026, secara daring, Rabu (22/7).

Menurut Perry, konflik di Timur Tengah berdampak pada terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.

"Prospek pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diperkirakan tetap lemah sebesar 3 persen dan inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,5 persen,” kata Perry.

Perry menjelaskan, kenaikan inflasi mendorong bank sentral di berbagai negara mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Di AS, BI memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

"Imbal hasil yield US Treasury juga naik tinggi ke level 4,56% untuk tenor 10 tahun dan 4,18% untuk tenor 2 tahun pada tanggal 20 Juli 2026 dan diperkirakan meringkat lagi didorong oleh melebarnya defisit fiskal Amerika Serikat,” jelas Perry.

Kondisi itu, menurutnya, turut memicu perpindahan dana investor global dari negara berkembang ke aset-aset yang dianggap lebih aman.

instagram embed

"Di pasar keuangan global, aliran modal keluar dari negara emerging market beralih ke pasar keuang Amerika Serikat dan aset yang memberikan timbal hasil tinggi dan aman safe haven asset,“ sebut Perry.

Meski demikian, Perry menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih terjaga di tengah tekanan global. Pertumbuhan ekonomi nasional tetap ditopang oleh kuatnya permintaan domestik.

Dia mengatakan, konsumsi pemerintah pada kuartal II 2026 meningkat seiring percepatan belanja negara dan pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah.

"Ditopang berlanjutnya realisasi program-program prioritas serta percepatan belanja pemerintah, terutama pemberian gaji ke-13 bagi ASN dan penyaluran bantuan sosial kepada keluarga penerima manfaat,” tuturnya.