BI Sebut Kalau Suku Bunga Tidak Turun, Maka Pemulihan Ekonomi Akan Lambat

Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga mencapai 3,5 persen. Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Juda Agung mengatakan, diturunkannya suku bunga itu diharapkan bisa mempercepat bangkitnya perekonomian.
Namun, kebijakan tersebut bisa tidak maksimal dalam proses pemulihan ekonomi nasional kalau tidak diikuti kerja sama yang baik, khususnya dari perbankan.
“Sebagai upaya melakukan pemulihan kalau suku bunga tidak turun-turun. Maka pemulihan akan berjalan lambat. Bank Indonesia sudah turunkan cukup signifikan sampai sekarang 3,5 persen,” kata Juda saat acara peluncuran buku Kebijakan Makroprudensial di Indonesia secara virtual, Jumat (28/5).
Juda mengakui sebenarnya perbankan juga sudah menurunkan suku bunga dasar kredit sebesar 15 persen di Maret 2021. Namun, ia menganggap penurunan 15 bps secara bulanan itu lebih rendah dibandingkan Februari 2021 yaitu sebesar 98 bps secara bulanan.
Juda merasa perbankan masih bisa menurunkan suku bunga kredit. Apalagi, kata Juda saat ini overhead cost atau pengeluaran tambahan sudah bisa dikondisikan.
Untuk itu, Juda memastikan pihaknya terus mendorong perbankan mau menurunkan lagi suku bunganya. Menurutnya, penurunan suku bunga itu bisa saja membuat permintaan kredit khususnya dari sektor riil meningkat.
“Memang kita tahu risiko kredit masih ada. Tapi kita tidak bisa menunggu dari sektor riil bergerak baru perbankan bergerak. Kita harus bergerak bersama-sama dari sisi suplai dan demand,” ungkap Juda.
