Kumparan Logo

BI Ungkap Alasan Tahan Suku Bunga, Pilih Naikkan Insentif demi Tarik Dana Asing

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: Shutterstock

Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75% pada Juli 2026. Suku bunga deposit facility juga ditahan sebesar 4,75%, sedangkan suku bunga lending facility sebesar 6,5%.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan sebelum mengambil keputusan, BI dihadapkan dua pilihan yakni menaikkan BI Rate yang berpotensi mendorong kenaikan suku bunga domestik atau mempertahankan suku bunga sembari memperkuat daya tarik investasi portofolio asing melalui insentif.

BI akhirnya memilih opsi kedua dengan meningkatkan insentif untuk instrumen lindung nilai (swap) dan Domestic Non Delivery Forward (DNDF).

"Dengan insentif bagi portofolio asing yang sekarang sudah ada SWAP lindung nilai, yang sekarang 10% kami tingkatkan menjadi 12,5%. [Lalu] ada insentif bagi DNDF (Domestic Non Delivery Forward) yang kita berikan insentif 15%,” ujar Perry saat konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) secara daring pada Rabu (22/7).

Gubernur Bank Indonesa Perry Warjiyo menyampaikan paparan saat konferensi pers hasil rapat Dewan Gubernur di Gedung Thamrin Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (19/3/2025). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Perry menjelaskan, dua kebijakan itu dinilai mampu menarik lebih banyak aliran modal asing, sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar tanpa harus membebani sektor riil melalui kenaikan suku bunga pinjaman dalam negeri.

"Dengan insentif-insentif ini lebih efektif menarik investasi penduduk asing mengendalikan nilai tukar dan tentu saja memberikan dampak bagi kenaikan suku bunga di dalam negeri,” kata Perry.

Perry menegaskan, peningkatan insentif tersebut lebih efektif dibandingkan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin.

"Ini yang kami pilih lebih efektif dari kenaikan BI rate 25 basis point. Kenaikan insentif SWAP 10% menjadi 12,5% dan pemberian insentif bagi DNDF menjadi 15% itu lebih efektif mengendalikan nilai tukar,” ucap Perry.