Biar Tak Boncos, Pertamina Diminta Naikkan Harga BBM Nonsubsidi Maret 2024
ยทwaktu baca 2 menit

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM non subsidi pada Maret 2024, setelah menahannya pada Februari 2024.
Pada awal Februari 2024 alias sebelum Pemilu 2024, Pertamina menahan kenaikan harga BBM non subsidi, berbeda dengan badan usaha swasta lain seperti BP-AKR, Shell Indonesia, dan Vivo.
Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi, mengatakan mestinya harga BBM naik setelah Pemilu 2024. Sebab, harga minyak mentah juga tengah merangkak naik.
"Kalau enggak (naik) kan, ini banyak pemain (badan usaha), kalau enggak emang mau boncos sama pesaingnya? Habislah. Mereka berhitung-hitung, itu benar-benar strategi bisnis," ujarnya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (23/2).
Menurut Agus, BBM non subsidi yang tidak naik memang menguntungkan konsumen. Namun, jika ingin realistis maka Pertamina seharusnya mempertimbangkan untuk tidak lagi menahannya.
"Ya kita membina biar anaknya enggak rugi kan, kita juga enggak mau boncos semua. Mereka juga sebagai bisnis kan terbatas semuanya," lanjutnya.
Saat ini harga Pertamax dibanderol Rp 12.950 per liter, Pertamax Green 95 Rp 13.900 per liter, Pertamax Turbo Rp 14.400 per liter, Dexlite Rp 14.550 per liter, dan Pertamina Dex Rp 15.100 per liter.
Sama halnya dengan harga BBM bersubsidi juga tidak mengalami perubahan, yakni Pertalite di harga Rp 10.000 per liter, dan Bio Solar seharga Rp 6.800 per liter.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji, mengungkapkan harga BBM nonsubsidi berpotensi naik setelah Pemilu 2024 rampung.
Tutuka menjelaskan harga minyak mentah kini masih terdorong eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu distribusi. Sehingga pemerintah akan mencermati kembali harga BBM.
"Kalau saya cermati harga minyak naik lagi, kayaknya (BBM) mau ke sana, karena intensitas Timur Tengah masih tinggi karena mengganggu logistik jadi akhirnya terpengaruh," kata Tutuka saat ditemui di kantor Lemigas, Selasa (20/2).
"Jadi memang perlu dicermati, saya setuju karena harga minyak cenderung naik terus," tambahnya.
