Biaya Logistik Mahal, Ekspor Ikan Hias Selama Kuartal I 2020 Anjlok 24,7 Persen

Selama pandemi corona ekspor ikan hias Indonesia anjlok 24,7 persen atau hanya USD 6,41 juta. Jumlah tersebut berdasarkan catatan Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) selama periode kuartal I 2020 dibanding periode sama pada tahun sebelumnya.
Penurunan ekspor ikan hias terjadi di tengah permintaan yang tinggi. Ketua DIHI, Suseno Sukoyono, mengakui orang-orang memilih memelihara ikan hias sembari mengurangi rasa jenuh dari aktivitas yang terbatas.
"Permintaan ikan hias tidak mengalami penurunan. Diduga, ikan hias telah mendorong orang menjadi objek hiburan baru di masa pandemi," ujarnya kepada kumparan, Selasa (16/6).
Namun, salah satu penyebab anjloknya ekspor ikan hias yaitu logistik terganggu akibat dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Padahal permintaan cukup besar dari negara importir.
Selain dari keterbatasan logistik, biaya logistik yang mahal membuat pengiriman menurun. Adapun pasar ikan hias Indonesia antara lain ke Amerika Serikat (AS), Eropa, dan China.
"Tapi transportasi udara ada peningkatan biaya angkut. Biaya naik 3-4 kali lipat dibanding harga normal," lanjutnya.
Adapun data DIHI, sepanjang tahun 2012 hingga 2019 ekspor ikan hias Indonesia naik sekitar 57,54 persen menjadi USD 33 juta. Mayoritas pengiriman ikan hias dari Bandara Soetta, Tangerang, Banten dan Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali.
