Kumparan Logo

Bio Farma Sudah Produksi 90,1 Juta Vaksin Sinovac

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang anak menerima vaksin COVID-19 Sinovac di Sentra Vaksinasi COVID-19 khusus anak di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Sabtu (24/7).  Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Seorang anak menerima vaksin COVID-19 Sinovac di Sentra Vaksinasi COVID-19 khusus anak di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Sabtu (24/7). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

PT Bio Farma (Persero) melaporkan hingga Senin, 26 Juli 2021, perusahaan sudah memproduksi 90,1 juta dosis vaksin COVID-19 yang berasal dari Sinovac, China. Vaksin tersebut diproduksi usai menerima pengiriman vaksin belum jadi dari Sinovac dalam bentuk bulk.

Sekretaris Perusahaan sekaligus Juru Bicara Bio Farma, Bambang Heriyanto mengatakan sejak 6 Desember 2020 hingga 22 Juli 2021, jumlah vaksin yang sudah masuk ke Indonesia kurang lebih sebanyak 151,9 juta dosis.

Secara rinci, 123,5 juta dosis dalam bentuk bulk yang diterima dari Sinovac dan 22,4 juta lainnya diterima dalam bentuk finish product yang diterima dari AstraZeneca dan Moderna.

“Terhitung tanggal 26 Juli 2021, total vaksin yang sudah jadi kurang lebih sudah 90,1 juta dosis (Sinovac)," katanya dalam keterangan pers, Selasa (27/7).

Vaksin Sinovac dalam Bentuk Bulk Akan Menyusut Saat Diproduksi

Bambang menjelaskan, proses karantina untuk vaksin ini, tidak hanya dilakukan kepada vaksin COVID-19 dalam bentuk finish product saja, tetapi dilakukan juga kepada bulk vaksin.

Khusus bulk vaksin bahkan harus menjalani proses karantina yang lebih panjang, dibandingkan dengan vaksin dalam kemasan finish product. Dengan demikian, Bio Farma tidak bisa langsung mengirimkan vaksin yang Bio Farma terima, kepada dinas kesehatan kabupaten dan kota.

“Sebagai contoh untuk jenis vaksin Bulk yang diterima dari Sinovac, Bio Farma harus melakukan karantina seperti uji internal oleh Quality Control (QC) Bio Farma, dan perlu mendapatkan izin rilis dari Quality Assurance Bio Farma, untuk selanjutnya akan masuk ke proses fill and finish di fasilitas produksi Bio Farma," ujar Bambang.

Pekerja cargo menurunkan Envirotainer berisi vaksin corona Sinovac dari pesawat Garuda Indonesia setibanya dari Beijing di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (2/3/2021). Foto: Muhammad Iqbal/ANTARA FOTO

Setelah selesai proses fill and finish pun, produk vaksin COVID-19 yang sudah jadi pun, masih harus melalui proses karantina lagi, sambil menunggu lot rilis, yang dikeluarkan oleh Badan POM.

Dalam setiap proses fill and finish bulk vaksin COVID-19, ada yang harus menjadi catatan yaitu mengenai adanya penyusutan dalam setiap proses pembuatan vaksin.

Itulah, kata Bambang, yang menyebabkan jumlah dosis yang diterima dalam bentuk bulk, jumlahnya tidak akan sama dengan jumlah dosis pada saat menjadi finish product (produk jadi) .

"Biasanya 10-15 persen lebih rendah dari jumlah bulk yang diterima. Jadi dari target 140 juta dosis bulk vaksin yang akan diterima Bio Farma, diperkirakan akan menjadi kurang lebih 122,5 juta dosis produk jadi yang siap pakai," ungkapnya.

Penyusutan ini merupakan hal yang normal dalam setiap proses pembuatan vaksin jenis apapun, dan terjadi pada manufaktur mana pun di dunia ini. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, dimulai dari saat proses produksi di manufaktur maupun pada saat proses pemberian vaksin di masyarakat.

“Hal itu karena dalam proses produksi mulai dari homogenisasi, filling, dan packing, akan ada vaksin yang hilang selama proses. Tentu pada proses ini ada wastage. Ini proses ini normal dan tidak bisa dihindari, misalnya diselang ada yang tersisa, tangki ada tersisa itu juga ada wastage. Termasuk juga terjadi dalam proses packaging,” ujar Bambang.

Selain itu, vaksin Sinovac produksi Bio Farma ini ada overfill atau ekstra volume vaksin yang disiapkan untuk mengantisipasi proses filling ke dalam kemasan vial multi dose.

Vaksin COVID-19 dikemas dalam kemasan 5 ml yang bisa digunakan untuk 10 penerima. Ini artinya setiap orang akan menerima 0,5 ml. Tetapi pada kenyataannya, Bio Farma tidak akan memasukkan larutan vaksin tepat 5 ml ke dalam vial, melainkan diberi tambahan volume antara 5,9 ml-6 ml.

“Karena pada praktik di lapangan pada saat pengambilan 1 dosis, biasanya dilebihkan sedikit untuk mendapatkan genap 0,5 ml per dosis vaksin ketika disuntikkan," jelas Bambang.

Dengan demikian, dari bulk yang telah diterima oleh Bio Farma sebanyak 123,5 juta dosis, diperkirakan akan dapat menghasilkan vaksin COVID-19 sekitar 99,5 juta dosis vaksin jadi.

"Per 26 Juli 2021, dari jumlah bulk 123,5 juta dosis, baru kami proses 110,7 juta dosis dan menghasilkan produk jadi sekitar 90,1 juta dosis produk jadi, dengan jumlah produk jadi yang rilis pada bulan Juli diperkirakan sebesar 16,6 juta dosis dan siap didistribusikan di bulan Agustus sebesar 19,8 juta dosis," ujar Bambang.

Total vaksin yang rilis baik COVID-19 produksi Bio Farma dan vaksin jadi (AstraZeneca dan Moderna) sebanyak 87 juta dosis. Sedangkan untuk vaksin yang sudah terdistribusi, secara akumulasi total 77,9 juta dosis, terdiri dari CoronaVac sebanyak 3 juta dosis, AstraZeneca sebanyak 9,2 juta dosis, dan vaksin COVID-19 Bio Farma sebanyak 65,7 juta dosis.

Proses distribusi dari Bio Farma terus berjalan sesuai dengan alokasi yang diberikan Kementerian Kesehatan menggunakan stok yang sudah mendapatkan lot rilis BPOM.