Bisa Enggak sih Gaet Investor saat Bisnis Belum Profitable?

Mendapatkan akses permodalan buat mengembangkan usaha, jadi impian banyak pengusaha. Apalagi pelaku UMKM yang berniat untuk melebarkan bisnis yang mereka geluti.
Namun, sebagian besar takut untuk memulai pitching alias menarik investor. Terlebih lagi saat bisnisnya belum tergolong usaha yang profitable alias belum bisa memberikan jaminan keuntungan.
Lantas apakah bisa menggaet investor saat belum ada jaminan profit?
Dalam UMKM Series episode kedua, Founder Kopi Kenangan, Edward Tirtanata, punya solusi atas keresahan ini. Dia mencontohkan bisnis kopi kekinian yang digelutinya itu, sebagai salah satu bukti keberhasilan menggaet investor tanpa harus menunggu usaha meraih profit terlebih dahulu.
Startup yang kini punya lebih dari 400 outlet itu, berangkat hanya dengan modal awal Rp 150 juta. Buat modal pertama itu dikuras dari kantong pribadi para foundernya.
Saat mereka akhirnya memutuskan pitching, Kopi Kenangan belum dalam kondisi yang profitable. Namun mereka sukses meyakinkan investor dengan kekuatan data hingga proyeksi yang jelas.
"Kami menggunakan modal awal Rp 150 juta. Setelah setahun berdiri akhirnya kita berpikir harus mencari penanaman modal, karena ini satu-satunya concern kita waktu itu,” ujar Edward dalam UMKM Series kumparan, Senin (22/3).
"Dari situlah kami pitching VC (venture capital). Kami tawarkan angka, berikut rencana x sampai z dalam jangka waktu 2 sampai 3 tahun," sambungnya.
Soal data dan perencanaan ke depan yang matang ini, kata Edward, lebih diperhatikan investor. Ketimbang usaha yang sudah jadi namun tidak punya data dan proyeksi angka yang jelas ke depan.
"Saat kami ingin pitching, tidak punya angka yang baik, kami akan kesulitan," ujarnya.
Untuk diketahui, Kopi Kenangan mendapatkan pendanaan Seri B senilai Rp 1,6 triliun pada pertengahan Mei 2020.
Suntikan modal ini dipimpin Sekoia India, diikuti sederet perusahaan lainnya seperti B Capital, Horizons Ventures, Verlinvest, Kunlun dan Sofina.
