Bisnis Kuliner Pedas Menyasar Pasar Milenial

Warung makan Ayam Penyet Everest di bilangan Depok, Jawa Barat, tak pernah sepi dari pengunjung. Saban hari dari siang hingga malam, warung makan ini selalu ramai dipenuhi pembeli.
Seperti Selasa malam lalu, dari 18 meja, semuanya terisi penuh. Mereka kebanyakan muda-mudi. Kalangan ini memang menjadi pelanggan paling banyak datang ke gerai Ayam Penyet Everest.
“Makanan pedas ini laris dan pembelinya rata-rata anak-anak muda,” kata Manajer Operasional Ayam Penyet Everest, Huda, saat ditemui kumparan, Selasa lalu.
Kini, Ayam Penyet Everest punya 4 cabang yang tersebar di Jakarta (Mampang, Sudirman, dan Tebet), dan di Depok. Omzetnya rata-rata Rp 100 juta per bulan dari setiap cabangnya. Jika bulan puasa, omzetnya bisa melonjak Rp 150 juta per gerai.
Pasar milenial memang menjadi magnet. Pengusaha-pengusaha muda pun tahu betul ini ceruk pasar baru untuk mengumpulkan ‘cuan’. Makanan pedas yang digandrungi kelompok anak muda menjadi kesempatan.

Seperti yang dilakukan Ali Muharam pemilik Makaroni Ngehe. Kehidupannya berubah 180 derajat setelah dia nekat meminjam Rp 20 juta dari temannya untuk merintis usaha. Dia sebelumnya pernah jadi tukang cuci piring di warteg.
Kini, Ali menjadi miliarder dari 32 gerai Makaroni Ngehe yang tersebar di beberapa wilayah setiap hari selalu penuh. Di Jakarta, gerai-gerai Makaroni Ngehe selalu dijejali driver ojek online yang dipesan para pelanggan.
“Sebenarnya semuanya mulai dari mana, konsep, sampai logo Makaroni Ngehe ini saya ciptakan enggak sengaja. Saya cuman anggap ini bagus, ya udah jadi,” katanya.
Dia mengaku tak pernah menyangka kalau Makaroni Ngehe akan laku keras. Setiap hari bisa habis 1.000 bungkus dari setiap outlet. Omzetnya mencapai Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per hari. Jika per bulan, kira-kira mencapai Rp 4 miliar dari seluruh outlet yang dia punya.
Sementara keripik fenomenal Maicih, kini sudah semakin berkembang. Jika pada masa merintis bisnis di tahun 2010-2011 keripik yang digagas Reza Nurhilman ini dijajakan di pinggiran jalan secara berpindah-pindah, kini sudah bisa ditemukan dengan mudah di hampir seluruh waralaba.
Pasarnya pun bukan hanya di dalam negeri, tapi sudah merambah ke beberapa negara di Asia, Amerika Serikat, hingga ke Eropa.
“Alfamart, Indomaret, Carrefour, dan lainnya. Pasar internasional ke Asia, terutama Malaysia, Australia, Thailand, Kanada, US. Tapi mungkin masih test market kita masih penjajakan 2 tahun ini,” katanya.

Soal omzet, Reza tak mau terbuka. Namun, pada awal 2010-2011, omzetnya masih sekitar ratusan juta. Beberapa bulan kemudian, menyentuh Rp 3 miliar setiap bulannya.
“Ratusan miliar enggak sampai,” kata Reza. Saat ditanya apakah bisa mencapai puluhan miliar. “Mungkin ya. Karena angka kan sangat sensitif.”
Tak kalah menarik adalah bisnisnya sambal Bu Rudy. Sambal yang kini menjadi ciri khas oleh-oleh Surabaya tersebut sangat diminati yang tua hingga yang muda. Produknya berupa sambal bawang, sambal bajak, dan sambal udang, selalu laris setiap hari.
Berawal dari hanya iseng, setiap bulannya sambal Bu Rudy kini bisa habis hingga ribuan botol. Produksinya setiap hari, bisa mencapai 1.500 hingga 2.000 botol. Sang empunya, Lanny Siswadi atau Bu Rudy, mengaku tak menduga usahanya bisa laris seperti sekarang ini.
"Yang pasti tidak pernah terencana, Awalnya kan saya pengusaha sepatu di Pasar Turi. Mulai 1983-2007 saya tekuni toko sepatu," ujar Lanny.
Bisnis pedas memang tak ada matinya. Meskipun panas di bibir, rasa pedas selalu bikin penasaran. Ceruk pasar inilah yang dimanfaatkan bagi mereka yang pandai melihat peluang dan kreatif.
