Bisnis Merchandise Jadi Ladang Cuan Baru Jepang, Nilainya Capai USD 25 M

Bisnis merchandise bagi para penggemar atau fandom di Jepang berkembang menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru di sektor ritel.
Nilai pasar yang dikenal dengan budaya oshikatsu itu diperkirakan mencapai ¥4,1 triliun atau sekitar USD 25 miliar sekitar Rp 449,85 triliun (kurs Rp 17.994 per dolar AS).
Dikutip dari Bloomberg, hal ini didorong meningkatnya pengeluaran masyarakat untuk mendukung idola, karakter anime, hingga kreator konten favorit mereka.
Fenomena tersebut bahkan menjadi perhatian Bank of Japan (BOJ) karena dinilai turut menopang konsumsi masyarakat, terutama di kalangan anak muda, di tengah kondisi ekonomi Jepang yang masih lesu dan dibayangi inflasi.
Meningkatnya belanja penggemar mendorong berbagai perusahaan dari beragam sektor ikut menggarap pasar tersebut.
Hal itu terlihat dalam gelaran Oshikatsu Expo di Tokyo bulan lalu yang diikuti lebih dari 240 perusahaan pemasok, melonjak dari sekitar 20 peserta saat pameran pertama digelar dua tahun lalu.
Produk yang ditawarkan pun semakin beragam, mulai dari lencana koleksi, figur karakter, casing ponsel, hingga parfum bertema idola.
Salah satu pesertanya, Pinole Co., sebuah perusahaan parfum Jepang yang memproduksi parfum untuk para vendor yang memiliki stan yang memajang berbagai barang, mulai dari lencana koleksi dan potongan karakter seukuran aslinya hingga casing ponsel pintar.
“Orang-orang ingin merasa terhubung dengan idola mereka dengan mengenakan wewangian tersebut,” kata Direktur Pengembangan Bisnis Pinole, Kei Yamasaki dikutip dari Bloomberg, Sabtu (4/7).
Menurut konsultan industri oshikatsu yang juga merupakan penggemar, Nanami Semachi, pertumbuhan pasar kini bukan hanya berasal dari penjualan merchandise resmi, tetapi juga layanan pendukung yang dibangun komunitas penggemar, seperti iklan buatan penggemar, acara komunitas, hingga berbagai layanan digital.
“Sisi resmi dari fandom sudah ada selama bertahun-tahun. Yang berkembang sekarang adalah sisi tidak resminya: iklan penggemar, kegiatan yang diselenggarakan penggemar, komunitas, dan layanan baru yang mendukung perilaku tersebut,” kata Semachi, yang mengenakan biaya ¥20.000 untuk kursus individu dan ¥550.000 untuk konsultasi perusahaan.
Peluang bisnis itu juga dimanfaatkan perusahaan yang sebelumnya jauh dari industri hiburan. Katani Co., produsen lembaran emas berusia 127 tahun yang selama ini memasok kebutuhan kemasan, kosmetik, hingga otomotif, kini menjual altar berlapis emas untuk memajang foto idola.
Salah satu produk unik perusahaan tersebut adalah altar berlapis emas bagi para penggemar untuk memajang foto idola favorit mereka. Altar tersebut dijual seharga ¥500.000 hingga ¥600.000, sedangkan versi yang lebih kecil harganya sekitar ¥100.000.
“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang lebih glamor ke pasar,” kata perwakilan penjualan Yasuaki Higashikawa. Segmen oshikatsu menghasilkan penjualan sekitar ¥80 juta bagi perusahaan yang sedang mempertimbangkan tim penjualan khusus untuk fokus pada produk-produk tersebut.
Kepala Ekonom Pasar Nomura Securities, Kohei Okazaki, mengatakan perubahan demografi Jepang turut mendorong pesatnya pertumbuhan ekonomi penggemar.
Berdasarkan survei Januari, sekitar satu dari empat konsumen Jepang mengaku aktif melakukan oshikatsu, meningkat 7,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Okazaki, semakin banyak masyarakat yang belum memiliki anak sehingga memiliki pendapatan dan waktu luang lebih besar untuk dibelanjakan pada hiburan.
Pengeluaran yang sebelumnya dialokasikan untuk hobi seperti otomotif atau minuman beralkohol kini mulai bergeser ke produk dan pengalaman yang berkaitan dengan idola maupun karakter favorit.
Meski demikian, karakter pasar juga mulai berubah. Rata-rata pengeluaran tahunan setiap penggemar turun menjadi sekitar ¥210.000 dari sebelumnya ¥255.000. Penurunan tersebut menunjukkan semakin banyak penggemar kasual yang masuk ke pasar sehingga basis konsumennya semakin luas.
