Bisnis Ritel Masih Remuk Dihantam Pandemi, HERO Catatkan Rugi Rp 1,6 Miliar

Bisnis ritel terpantau masih lesu memasuki awal 2021. PT Hero Supermarket Tbk (HERO) tercatat masih membukukan rugi periode berjalan sebesar Rp 1,6 miliar. Meski demikian capaian ini membaik ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat rugi Rp 44 miliar.
Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, Sabtu (1/5), HERO mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp 1,7 triliun, turun 32,2 persen dari realisasi tahun sebelumnya yang tercatat Rp 2,6 triliun. Sementara itu perseroan mencatatkan laba kotor sebesar Rp 494 miliar turun 29,7 persen dibanding realisasi periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 703 miliar.
Adapun bisnis HERO terbagi dalam dua segmen usaha eceran utama yaitu makanan dan non makanan. Segmen makanan terdiri dari supermarket dan hipermarket. Sedangkan segmen non makanan terdiri apotek, toko obat, kesehatan dan kecantikan dan perabot rumah.
Berdasarkan dua segmen tersebut, segmen makanan berkontribusi lebih dominan pada pendapatan bersih perseroan yaitu sebesar Rp 1,08 triliun. Sedangkan segmen non makanan menyumbang pendapatan bersih Rp 680 miliar.
Presiden Direktur HERO Patrik Lindvall mengakui bahwa perseroan terus menghadapi tantangan signifikan pada kuartal pertama tahun 2021 akibat pandemi COVID-19 terkait dengan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan perubahan pola belanja pelanggan.
“Bisnis Groseri serta Kesehatan dan Kecantikan Perseroan secara signifikan terus terkena dampak negatif dari pandemi ini. Pembatasan-pembatasan dalam PPKM menyebabkan perubahan dalam perilaku belanja pelanggan dan pola permintaan barang serta juga berdampak pada penurunan jumlah kunjungan pelanggan ke toko-toko Perseroan yang berada di dalam mal,” ujar Lindvall dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/5).
Selain itu toko perabotan rumah tangga IKEA juga terkena dampak dari pembatasan kapasitas operasional di dalam toko. Meski demikian Lindvall mengatakan sebagian dari hal tersebut dapat diimbangi oleh pertumbuhan e-commerce.
Lindvall menjelaskan pendapatan bisnis IKEA dipengaruhi oleh pembatasan kapasitas operasional serta gangguan perdagangan akibat COVID-19. Meski demikian pada kuartal I 2021 perseroan tetap melakukan ekspansi dengan membuka toko ketiga IKEA Indonesia yang berlokasi di Bandung.
Sementara itu kinerja keuangan bisnis ritel groseri PT Hero juga terus terkena dampak secara signifikan oleh pandemi. Pembatasan sosial yang ketat, larangan perjalanan domestik dan khususnya, penutupan atau pemberlakuan pembatasan-pembatasan yang ketat di pusat perbelanjaan/mal telah mengubah pola belanja pelanggan secara substansial dan mengurangi jumlah kunjungan pelanggan ke lokasi-lokasi ini.
“Akibatnya, hal ini secara material mempengaruhi kinerja hipermarket sebagai destinasi belanja dalam format besar yang merupakan penyewa utama di pusat perbelanjaan/mal dan merupakan tempat mayoritas di mana area toko-toko Giant berada,” ujarnya.
Lindvall mengatakan jangka waktu dan tingkat dampak pandemi COVID-19 terhadap PT Hero masih belum diketahui pasti. Namun, Perseroan memperkirakan pandemi akan terus mempengaruhi operasional tahun ini yang tetap penuh tantangan. “Perseroan tetap berkomitmen terhadap masa depan bisnis ritelnya di Indonesia dan dalam posisinya sebagai pengecer yang kompetitif dan solid di bidangnya dalam jangka panjang,” ujarnya.
