Bitcoin Cs Anjlok, Haruskah Panik Saat Terjadi Crypto Winter?
·waktu baca 4 menit

Crypto Winter. Begitulah istilah yang diberikan industri aset kripto saat ini ketika pasar terus kontraksi. Pasar kripto kini memang tengah mengalami fase yang sulit ketika penurunan sangat dalam nilai Bitcoin dan banyak altcoin terkemuka.
Harga aset kripto telah turun lebih dari 70 persen dari harga tertingginya sepanjang masa dengan nilai USD 69.044. Pada hari ini, Minggu (19/6) jam 11.26 WIB berdasarkan coindesk.com, harga kripto hanya USD 18.402 atau setara Rp 272,8 juta (Kurs Jisdor Rp 14.828).
Mengutip Tokocrypto, aset kripto lainnya pun juga mengalami nasib yang sama. Ethereum tercatat turun lebih dari 75 persen, TRON turun 76 persen, dan SOL dan AVAX keduanya turun hingga 88 persen. Sementara nilai kapitalisasi market kripto sempat anjlok USD 1 triliun.
VP Marketing Tokocrypto, Adytia Raflein, mengatakan kekacauan makroekonomi dan geopolitik menjadi penyebab anjloknya Bitcoin Cs. Sentimen pasar, menurut dia, memasuki masa yang tertekan.
"Ditandai dengan ketakutan yang ekstrem dan gejolak ekonomi global baru-baru ini menambah perubahan secara menyeluruh di industri. Investor harus melakukan penyesuaian dengan kondisi market untuk tetap mendapatkan profit dalam jangka pendek maupun panjang," kata Adytia dalam keterangan tertulisnya.
Di tengah kondisi suku bunga yang tinggi, banyak investor ragu masuk ke investasi aset berisiko seperti kripto. Bahkan tidak sedikit investor yang menjual aset kripto mereka dengan kerugian.
Yang Harus Dilakukan Investor Kripto
Menurut Adytia, hal yang paling penting untuk dipahami adalah bahwa apa yang disebut “crypto winter” bukanlah akhir dari segalanya. Kabar baiknya, kata dia, setidaknya secara historis musim dingin kripto selalu diikuti kenaikan kuat yang membuat Bitcoin dan berbagai proyek altcoin mencapai titik tertinggi baru sepanjang masa.
"Bagi investor, hal terbaik yang harus dilakukan sekarang adalah mencoba dan menilai situasi secara objektif. Terlalu mudah untuk membuat keputusan berdasarkan emosi ketika nilai portofolio hancur sangat tidak bijak. Mengelola emosi selama bear market terjadi tidaklah mudah. Oleh karena itu, harus tetap tenang dan mengingat kembali tujuan investasi di kripto sejak awal," jelasnya.
Ketika bear market, pergerakan aset kripto cenderung sulit diprediksi. Banyak investor setuju bahwa jalan terbaik ke depan adalah mengadopsi strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dan Buy The Dip, di mana membeli sejumlah aset kripto di saat pasar mengalami koreksi bearish yang signifikan.
"Strategi ini sendiri dapat menjadi peluang yang menguntungkan, ketika market kembali bull run. Sampai saat ini, DCA telah terbukti bisa meningkatkan nilai investasi dalam perdagangan kripto, jika melihat historis secara market bearish beberapa waktu lalu," katanya.
Selain itu, Adytia mengatakan strategi short selling saat harga aset kripto turun bisa diterapkan. Short positioning ini akan menguntungkan saat nilai aset tertentu mengalami penurunan.
"Namun perlu diingat, pelajari dahulu teknis short selling karena dibutuhkan prediksi yang tepat atas pergerakan harga kripto," ujarnya.
Dia menganjurkan agar pelajari kembali berbagai jenis aset kripto yang saat ini tersedia di market atau mencari lebih banyak strategi investasi untuk mengurangi risiko kerugian di masa mendatang.
"Jadi, pastikan investor lakukan analisis mengapa harga turun, dan gali lebih dalam alasannya. Dan tidak lupa untuk melakukan diversifikasi investasi di berbagai aset kripto, jangan fokus pada jenis-jenis kripto tertentu saja," kata Adytia.
Potensi Industri Aset Kripto Dalam Negeri
Industri aset kripto di Indonesia dinilai masih memiliki potensi besar. Bappebti mencatat hingga April 2022, transaksi untuk aset kripto sudah mencapai Rp 160 triliun. Meskipun angka tersebut jauh lebih kecil dibanding tahun lalu lantaran beberapa nilai aset kripto turun.
Sementara, jumlah investor aset kripto kini sudah mencapai 13,04 juta investor, masih jauh lebih besar dibandingkan investor saham. Sementara jumlah pedagang aset kripto yang resmi terdaftar di Bappebti sudah mencapai 25 perusahaan, tumbuh dari 11 perusahaan di penghujung tahun 2021.
"Kami menyambut baik pertumbuhan jumlah calon pedagang aset kripto yang terdaftar resmi di Indonesia. Jika dari market atau masyarakat melihat akan semakin banyak kompetitor, namun kami melihat ini sebagai bukti bahwa industri kripto di Indonesia terus tumbuh dan sehat, serta punya potensi untuk berkembang, karena menarik banyak pemain untuk masuk ke industri ini," kata VP Growth Tokocrypto, Cenmi Mulyanto.
Prospek ke depan, industri kripto dinilai masih menjanjikan dan akan terus tumbuh, bersamaan dengan adopsi teknologi blockchain yang semakin luas. Kripto nantinya tidak akan dilihat lagi sebagai instrumen investasi, namun sebagai backbone ekosistem yang bisa menyelimuti banyak sektor.
