BKPM Minta Hilirisasi Timah Tak Hanya Mentok di Produk Solder

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM meminta hilirisasi timah di dalam negeri digencarkan kembali, tidak hanya berhenti di solder timah, yang masih termasuk produk setengah jadi dari bijih timah.
Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Heldy Satrya Putera, mengatakan Indonesia tengah kejar-kejaran dengan negara lain untuk mendapatkan investasi di sektor hilirisasi mineral kritis, termasuk timah.
"Kita sudah lama punya yang namanya timah tetapi sampai hari ini produk yang kita hasilkan timah kita yang terbesar itu masih solder. Padahal aplikasi timah itu sangat beragam dan sangat dibutuhkan," tuturnya saat Forum Mineral Kritis BRIN, Kamis (5/11).
Heldy menyebutkan bahwa produk turunan timah sangat banyak, bahkan salah satunya adalah kemasan botol. Dia menilai, dengan adanya kebijakan larangan ekspor bijih timah, maka industri hilirisasi seharusnya bisa lebih hilir.
"Solder timah yang konon katanya bahkan ini dikaitkan kembali menjadi bahan baku, padahal kita sudah larang bijih timah untuk di ekspor sebagai bahan mineral," kata dia.
Ditemui usai acara, Heldy menuturkan bahwa pemerintah ingin terus mendorong hilirisasi timah agar industri elektronik di Indonesia bisa berkembang pesat dibandingkan negara-negara yang lain.
"Bahan bakunya kita memiliki semua. Tadi timah merupakan salah satu, tembaga itu juga dibutuhkan untuk kabel, kita juga punya pasir silika untuk membuat motherboard, membuat chip, dan sebagainya," tuturnya.
Dia pun memaparkan bahwa produk hilir komoditas timah yang akan digencarkan misalnya tin chemical yang bisa diaplikasikan untuk industri plastik, kemasan, bahan bangunan, hingga kaca.
"Kita itu timah termasuk yang besar di dunia, jadi kita berharap ke depan akan seperti nikel. Sekarang siapa orang tidak bahas nikel? Semua orang bahas nikel. Hari ini pun tadi nikel jadi contoh. Saya sih berharap timah pun kita bisa menjadi yang seperti itul" tandas Heldy.
Sebelumnya, berdasarkan data terakhir yang dicatat Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI), PT Timah Industri memproduksi tin solder sebesar 2.000 ton per tahun, tin chemical 21.000 ton per tahun, dan tin powder 100 ton per tahun pada tahun 2025.
Di luar itu, hanya sedikit perusahaan yang tengah membangun fasilitas hilirisasi dengan kapasitas terbatas, mulai dari pabrik tin solder 4.000 ton per tahun hingga rencana produksi 40.000 ton tin solder oleh PT Tri Charislink Indonesia, serta pengembangan tin chemical 16.000 ton oleh PT Batam Timah Sinergi. Ada pula industri hilir seperti PT Solderindo dengan kapasitas 48.000 ton dan PT Latinusa dengan kapasitas tin plate 160.000 ton per tahun.
