Kumparan Logo

Bos Astra Agro Lestari Harap Harga CPO Tembus USD 1.200, Ini Faktornya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022). Foto: Syifa Yulinnas/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022). Foto: Syifa Yulinnas/ANTARA FOTO

Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), Santosa, berharap harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) bisa tembus USD 1.200 per ton tahun ini, jika tidak ada perubahan cuaca yang ekstrem.

Santosa menjelaskan, secara realistis, pergerakan harga CPO dipengaruhi oleh permintaan importir CPO, yang biasanya naik ketika musim-musim tertentu seperti hari raya atau tahun baru.

"Kalau harga harapan saya sih USD 1.200, tapi realistisnya gini, seasonal-nya kan tahun baru dan Imlek, kalau lebaran kan semua negara muslim bareng, Timur Tengah, Bangladesh, Indonesia. Kalau memang meningkat ya harusnya bulan-bulan lalu," ujarnya saat Talk To CEO 2024, Jumat (17/2).

Adapun saat ini, harga RBD Olein FOB Malaysia berada di USD 848,75 per ton pada 15 Februari 2023. Menurut dia, kemungkinan di kuartal II 2023 tidak akan ada kenaikan signifikan karena momentum permintaan sudah lewat.

Direktur Utama Astra Agro Lestari, Santosa, saat Talk to CEO 2024 di Hotel Gaia Bandung, Jumat (16/2/2024). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

"Kalau sudah kuartal kedua tidak akan lagi meningkat, karena harusnya kalau saya tidak salah prediksi dan BMKG tidak salah prediksi, low crop itu sekarang. Kalau masuk kuartal II belum peak crop, tapi seharusnya sudah nomalize, sementara seasonal festivalnya sudah engga ada," jelasnya.

Santosa mengatakan, kemungkinan permintaan besar CPO akan datang dari negara-negara Asia Selatan, dengan adanya festival Deepavali pada November. Namun, hal ini juga masih tergantung kondisi cuaca.

"Kecuali ada perubahan ekstrem di cuaca yang tidak bisa diprediksi, harusnya harga kalau bisa stabil di tingkat antara USD 900 lebih saja itu sudah bagus," ungkap Santosa.

Sebelumnya, Global Research analyst, Thomas Mielke, menjelaskan penurunan produksi kelapa sawit memberikan pengaruh signifikan di pasar global di tengah semakin meningkatnya konsumsi dunia.

Menurutnya, industri kelapa sawit Indonesia tetap akan mendominasi pasar minyak nabati global yang menguasai 32 persen produksi minyak nabati dan 53 persen ekspor di pasar global di tahun 2024.

Ilustrasi perkebunan sawit di Malaysia. Foto: ashadhodhomei/Shutterstock

“Peningkatan produksi kelapa sawit dalam setahun hanya sekitar 1,7 juta ton atau bahkan kurang. Jumlah ini jauh lebih rendah dari biasanya yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir sejak 2020 yakni 2,9 juta ton," jelas dia saat Pakistan Edible Oil Conference, Selasa (16/1).

Penurunan produksi utamanya karena turunnya produksi sawit Indonesia sebagai negara produsen dan eksportir kelapa sawit terbesar. Begitu pula El Nino di berbagai belahan dunia di akhir tahun 2023, tidak memberikan pengaruh lebih signifikan dibandingkan penurunan produksi kelapa sawit di Indonesia.

Sementara terkait dengan harga, selain faktor supply kelapa sawit Indonesia di pasar yang menurun, kebijakan bioenergi atau biodiesel dan sustainable Aviation fuel (SAF) di berbagai negara juga turut menjadi faktor yang akan mempengaruhi harga pasar di tahun 2024.