Bos BEI Buka Suara soal Banyak Emiten Masuk Daftar Boikot Akibat Agresi Israel
·waktu baca 3 menit

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, memandang dampak yang ditimbulkan dari agresi Israel terhadap Palestina tidak akan sebesar dampak akibat perang Rusia-Ukraina. Meskipun banyak emiten yang terdampak pemboikotan.
Mantan Direktur Strategi, Portfolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) ini mengatakan, hingga kini ia belum melihat dampak yang signifikan akibat boikot produk pro Israel ini.
"Kalau kita bicara kemarin perang Rusia dan Ukraina, itu kan Rusia punya sumber energi yang dampaknya signifikan, karena dia salah satu produsen energi terbesar. Nah kalau terkait dengan ini, saya masih positif melihatnya," tutur Iman dalam Capital Market Journalist Workshop di Balikpapan, Jumat (17/11).
Kendati demikian, Iman mengatakan , masih ada kemungkinan aksi boikot ini akan menimbulkan dampak yang besar, namun menurutnya, dampak yang ditimbulkan saat ini masih dapat diatasi.
"Bukan saya bilang ini gak berdampak signifikan, tapi bagi pasar modal kita, menurut saya ini masih managable,” tambah Iman.
Hal ini lantaran, lanjut Iman, investor yang menanamkan modal pada emiten di Indonesia tergolong cerdas dalam berinvestasi dan lebih mempertimbangkan hal-hal yang bersifat mendasar.
“Investornya cukup cerdas untuk berinvestasi, karena at the end uang investasinya juga berputar ke situ. Jadi akan mengalir ke pilihan-pilihan lain,” imbuhnya.
Menurut dia dampak boikot ini akan mengerek serta penurunan minat investasi di perusahaan yang telah bertengger di perdagangan saham ini, ketika jumlahnya terbilang sedikit. Namun, dengan jumlah perusahaan yang melantai di Bursa saat ini sebanyak 904, Iwan bilang, dampaknya tidak akan terlalu terasa.
“Mungkin kita bicara satu dua saham, tapi kalau ada 904 (emiten) ini bagi investor, kita bisa memilih,” tutup Iman.
Senada dengan Iman, Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal OJK, Antonius Hari juga menuturkan, investor akan lebih melihat pada hal-hal yang bersifat mendasar dalam menanamkan modal.
Di sisi lain, Hari juga memandang, aksi boikot ini akan dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Oknum tersebut akan menimbun saham perusahaan yang masuk ke dalam daftar boikot pro Israel, kemudian dijual kembali setelah isu ini mereda dan harga menjadi normal kembali.
“Saya khawatir ini ada yang untung banyak, begitu harga jatuh, dia langsung beli (saham), karena fundamentalnya bagus, dia beli aja pas harganya jatuh, nanti dia tunggu kalau harga udah naik lagi dia jual,” kata Hari dalam kesempatan yang sama.
Salah satu perusahaan yang disinyalir mendukung agresi Israel terhadap Palestina adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), hingga produknya seperti Sunlight, Wipol, Sariwangi, Paddle Pop dan lain-lain, diboikot di masyarakat.
Tidak hanya UNVR, ada juga waralaba kedai kopi Starbucks yang juga masuk ke dalam daftar boikot, dan perusahaan yang mempunyai lisensi Starbucks pun turut disorot, yaitu PT Map Boga Adiperkasa Tbk (MAPB), anak usaha dari raksasa ritel Indonesia PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI).
Aksi boikot juga ditujukan pada restoran cepat saji KFC, yang bernaung di bawah PT Fast Food Indonesia Tbk. (FAST).
