Kumparan Logo

BPDP: RI Sudah Hemat Devisa Rp 722,9 T dari Program Biodiesel Selama 10 Tahun

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Media briefing BPDP di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (29/7/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Media briefing BPDP di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (29/7/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menjelaskan bahwa program biodiesel sudah membuat Indonesia menghemat hingga Rp 722,9 triliun dalam kurun 2015-2025. Maka dari itu, BPDP juga mendukung program biodiesel melalui insentif yang terus dikucurkan.

Adapun Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko BPDP, Zaid Burhan Ibrahim menjelaskan saat ini insentif yang dikucurkan untuk program tersebut sudah mencapai Rp 240 triliun dengan total penyaluran hingga 83,8 juta kiloliter.

“Untuk pemenuhan kebutuhan bahan bakar nabati atau biodiesel, sekarang sudah program B50 itu sudah Rp 240 triliun yang disalurkan, dengan total penyaluran 83,8 juta kiloliter. Ada penghematan devisa Indonesia karena program insentif biodiesel ada sekitar Rp 722,9 triliun devisa Indonesia yang dihemat karena tidak harus membeli bahan bakar solar,” kata Zaid dalam media briefing BPDP di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pada Rabu (29/7).

Ke depan, Zaid juga berkomitmen BPDP akan terus mendukung program B50. Bahkan, ia mendorong adanya kajian soal tingkat bauran yang lebih tinggi dari B50 yang sudah diterapkan saat ini.

Jajaran botol sampel biodiesel sawit diletakkan saat acara pengujian B50 sebagai bagian dari rencana strategis pemerintah untuk meningkatkan kadar campuran sawit di Lembang, Provinsi Jawa Barat, Selasa (21/04/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

“Ke depan mungkin hasil kajian-kajian bisa lebih tinggi lagi, bisa B60, B70 dan seterusnya. Nah ini komitmen kita juga terkait dengan mendorong program bahan bakar nabati ini semakin lebih baik lagi,” ujarnya.

Di samping itu, penghematan dari penerapan B50 menurut Zaid juga bisa membuat penghematan devisa lebih tinggi. Untuk tahun ini saja, jumlahnya penghematannya bisa mencapai Rp 170 triliun.

“Bahkan dengan B50 itu penghematan devisa nya lebih tinggi, karena sampai akhir tahun (2026) Rp 170 Triliun,” kata Zaid.

80 Persen Ekspor Sawit RI Sudah Berbentuk Produk Hilir

Selain itu, Zaid juga menjelaskan hilirisasi di sektor perkebunan kelapa sawit saat ini mulai terasa dampaknya. Hal ini dilihat dari ekspor kelapa sawit yang 80 persen sudah berbentuk produk hilir.

Berdasarkan data per 2023 dari keseluruhan ekspor kelapa sawit, 81,83 persen di antaranya merupakan produk hilir. Sementara itu, ekspor dalam bentuk minyak kelapa sawit sebesar 13,06 persen dan minyak mentah kelapa sawit sebesar 4,97 persen. Sisanya adalah ekspor dalam bentuk lainnya sekitar 0,14 persen.

“Lebih dari 80 persen ekspor sawit Indonesia sudah berbentuk produk hilir, bukan lagi minyak mentah Hal ini menunjukkan bahwa hilirisasi mulai memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi industri nasional,” kata Zaid.

Sementara terkait nilai ekspor, Zaid juga menuturkan bahwa dari 2021 sampai 2023 nilai ekspor kelapa sawit selalu berada di atas USD 20 miliar per tahun. Adapun nilai ekspor di tahun 2021 mencapai USD 26,68 miliar dengan tonase 27,04 juta ton, 2022 USD 29,75 miliar dengan tonase 26,33 juta ton dan 2023 USD 24,01 miliar dengan tonse 27,54 juta ton.

“Nilai ekspor sawit Indonesia setiap tahunnya mencapai lebih dari USD 20 miliar. Menjadikannya sebagai salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara,” ujarnya.

Produk Tak Hanya Minyak Goreng

Ilustrasi perkebunan kelapa sawit Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Zaid juga menjelaskan produk hilir dari kelapa sawit bukan hanya minyak goreng. Bahkan, ia menuturkan produk kelapa sawit sebenarnya ada dalam 24 jam kehidupan masyarakat sehari-harinya.

“Jadi kalau kita perhatikan sawit ini 24 jam secara tidak kita sadari ada dalam kehidupan kita semua. Ada yang sudah jadi kosmetik, kalau yang cewek-cewek suka bersolek tidak sadar itu ada unsur sawitnya juga. Ada yang sudah jadi bahan bakar, ada yang sudah jadi minyak goreng dan lain sebagainya, bahkan ada yang sudah memanfaatkan waste dari sawit itu ada yang jadi helm, ada yang jadi rompi anti peluru, banyak,” kata Zaid.

Ia juga menjelaskan dibanding minyak dari bahan lain seperti bunga matahari, produksi minyak kelapa sawit lebih efisien dari segi lahan. Hal ini karena kelapa sawit bisa menghasilkan 4 ton minyak per hektare.

“Jauh lebih tinggi dibandingkan kedelai, bunga matahari maupun rapeseed yang produktivitasnya bahkan tidak mencapai se-per limanya dengan produktivitas tersebut sawit mampu memenuhi kebutuhan minyak nabati,” ujarnya.