Kumparan Logo

BPH Migas Dukung Subsidi CNG untuk Rumah Tangga, Alternatif LPG

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Produk gas bumi CNG Subholding Gas Pertamina, PT PGN Tbk, mulai disalurkan ke Kota Balikpapan Kalimantan Timur. Foto: Dok. PGN
zoom-in-whitePerbesar
Produk gas bumi CNG Subholding Gas Pertamina, PT PGN Tbk, mulai disalurkan ke Kota Balikpapan Kalimantan Timur. Foto: Dok. PGN

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mendorong optimalisasi pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif energi rumah tangga, sekaligus mengurangi ketergantungan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugraha mengatakan, optimalisasi stasiun induk CNG dan pembangunan infrastruktur mini LNG akan membuka lebih banyak pilihan energi bagi masyarakat selain LPG. Dia juga mendorong pengembangan Mini-Liquefied Natural Gas (LNG). “Jadi, tidak terbatas LPG saja, tetapi ada pilihan menggunakan jaringan gas kota (city gas) berbasis CNG dan LNG," katanya dalam keterangan resmi, Sabtu (9/5). Fathul melanjutkan, kebutuhan energi rumah tangga masih didominasi LPG bersubsidi yang membebani fiskal negara dan memicu tingginya ketergantungan impor. Saat ini, impor LPG Indonesia disebut telah mencapai 81 persen dari total kebutuhan masyarakat. "CNG merupakan gas yang berbeda dengan LPG, namun memiliki fungsi serupa sebagai sumber energi. Adapun, pemanfaatan CNG saat ini sudah mulai digunakan di sektor komersial seperti hotel dan restoran,” lanjutnya. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, pemerintah menargetkan pembangunan jaringan gas bumi untuk rumah tangga mencapai 350 ribu Sambungan Rumah (SR) pada 2029. Untuk mengejar target tersebut, BPH Migas menilai perlu akselerasi regulasi terkait Stasiun Induk CNG dan Terminal Mini-LNG agar investasi dapat lebih cepat masuk. Selain itu, model pembiayaan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) juga dinilai penting untuk mendukung pembangunan infrastruktur, khususnya di wilayah Indonesia Timur yang memiliki tantangan geografis. “Untuk memperluas jangkauan jargas menggunakan CNG, dapat dilakukan melalui konversi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) menjadi Stasiun Induk (Mother Station). Sedangkan untuk penyaluran penyaluran jargas non-pipa dapat menggunakan mini-LNG,” tuturnya. Fathul menambahkan, kolaborasi antara regulator dan pelaku industri menjadi faktor penting dalam mempercepat pemanfaatan gas bumi nasional. “Sehingga potensi gas alam yang melimpah dapat segera dirasakan manfaatnya demi mewujudkan kemandirian energi nasional,” pungkasnya. Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas), Laode Sulaeman, menegaskan peta jalan (roadmap) yang sudah disiapkan belum bisa diumumkan kepada publik. Hanya saja, setelah kajian selesai 3 bulan nanti, CNG tabung 3 kg akan diproduksi secara masif dengan skema bisnis yang masih digodok. Nantinya, dia pun membuka peluang tabung CNG bisa lebih murah dari LPG, meskipun perhitungan pemerintah saat ini yakni dengan harga yang sama dengan LPG 3 kg saja, CNG sudah bisa menghemat subsidi energi hingga 30 persen. "Lemigas dalam setiap tahapan-tahapan uji tabung kita lakukan uji tekan dan lain-lain, ini memang faktor yang paling penting Pak Menteri juga mengamanahkan ke kami itu merupakan hal yang paling utama kita pastikan sebelum ini nanti dimasifkan," jelas Laode.