BPJS Ketenagakerjaan Gencarkan Layanan Klaim JHT Tanpa Kontak Fisik

Pandemi COVID-19 membuat banyak perusahaan terpaksa melakukan PHK. Kondisi inipun berdampak pada melonjaknya klaim Jaminan Hari Tua (JHT) yang dikelola BPJS Ketenagakerjaan atau BPJAMSOSTEK.
Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Agus Susanto mengatakan, pihaknya menyadari bahwa meningkatnya jumlah klaim harus diiringi dengan inovasi demi menjamin kualitas layanan. Apalagi saat ini, pemerintah terus mengimbau agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan demi memutus rantai penularan virus corona (COVID-19).
Artinya kontak fisik sangat dibatasi dalam kegiatan bermasyarakat. Namun di sisi lain, tidak semua lapisan masyarakat bisa mengakses layanan publik secara online.
“Untuk itu kami melakukan peniadaan kontak fisik. Kita melakukan layanan baik online maupun offline. Belajar dari beberapa negara, ternyata layanan publik tidak cukup dilakukan online, masih butuh offline. Untuk itu offline tetap ada namun cara pelayanannya tanpa kontak fisik,” ungkap Agus dalam Webinar Pelayanan Tanpa Kontak Fisik "One To Many" Di Era New Normal, Kamis (9/7).
Untuk itu, menurut Agus, pihaknya telah menyediakan berbagai kanal klaim yang dapat digunakan oleh peserta melalui protokol Layanan Tanpa Kontak Fisik (LAPAK ASIK), yang terdiri dari kanal online, offline, dan kolektif.
Protokol LAPAK ASIK telah diperkenalkan sejak bulan Maret lalu. Adapun bagi masyarakat yang memilih layanan online dapat mengaksesnya melalui kanal antrian.bpjsketenagakerjaan.go.id.
Sedangkan bagi peserta yang mengalami kesulitan mengakses LAPAK ASIK online, dapat dilayani langsung di kantor cabang BPJAMSOSTEK di seluruh Indonesia, sebab LAPAK ASIK juga memiliki kanal offline. Layanan ini menurut Agus akan dilakukan dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.
Agus mengatakan LAPAK ASIK offline ini tetap tidak mempertemukan petugas BPJAMSOSTEK dan peserta secara langsung. Kantor cabang BPJAMSOSTEK menyediakan bilik-bilik yang dilengkapi layar monitor yang terhubung dengan petugas secara video conference untuk kebutuhan komunikasi dan verifikasi data.
“Jadi peserta yang ada kendala, kami persilakan datang ke seluruh cabang kami. Dulu pakai cara lama, face to face satu per satu. Sekarang tidak ada tatap muka. Peserta yang datang tidak lagi ketemu karyawan tapi ketemu bilik-bilik layar monitor. Berdasarkan pantauan, peserta bisa melakukan hal ini dengan mandiri tanpa bantuan siapa pun,” ujarnya.
Melalui metode ini, setiap petugas Customer Service Officer (CSO) bisa melayani 4-6 orang sekaligus dalam waktu bersamaan, sehingga metode pelayanan ini disebut One to Many. Agus pun mengklaim dengan cara demikian, kecepatan layanan akan semakin meningkat.
Di sisi lain, Agus menyadari dalam praktiknya, layanan tanpa kontak fisik ini masih menemui beberapa kekurangan. Untuk itu pihaknya berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan demi memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
“Secara teoritikal ada peningkatan layanan 4 hingga 6 kali lipat. Ini sudah berjalan baik di seluruh kantor cabang. Akan kami lakukan pembenahan terus menerus sebab inovasi itu tidak ada ending-nya,” tandasnya.
