BRI Bukukan Laba Bersih Rp 10,2 Triliun di Semester I, Anjlok 36,88 Persen

Sepanjang semester I 2020, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau Bank BRI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 10,2 triliun. Angka ini anjlok 36,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar Rp 16,16 triliun. Penurunan kinerja keuangan bank BUMN ini merupakan dampak dari pandemi COVID-19.
“Dengan kualitas asset terjaga, NPL pada situasi menantang 3,1 persen, dan cadangan yang memadai maka BRI membukukan laba Rp 10,2 triliun,” ungkap Direktur Utama BRI Sunarso dalam press conference kinerja keuangan BRI Triwulan II 2020 secara daring, Rabu (19/8).
Sunarso merinci, dari segi liabilities, BRI mampu menumbuhkan Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga double digit. Hingga akhir Juni 2020, DPK BRI konsolidasian tercatat Rp 1.072,50 triliun, tumbuh 13,49 persen yoy. Menurut Sunarso pencapaian ini lebih tinggi dari penghimpunan DPK industri perbankan di bulan Juni 2020 yang tercatat sebesar 7,95 persen yoy. DPK BRI didominasi oleh dana murah (CASA) sebesar 55,81 persen. Adapun aset konsolidasian mencapai Rp 1.387,76 triliun atau tumbuh 7,73 persen yoy.
Selain itu, perseroan juga mampu menjaga loan to deposit ratio (LDR) secara ideal di angka 86,06 persen atau lebih rendah dengan LDR BRI di akhir Juni 2019 sebesar 92,81 persen. Sementara itu, permodalan BRI mampu dijaga dengan optimal dengan CAR 20,15 persen.
Di sisi lain, pandemi mampu mendorong transaksi digital di BRI sehingga mampu mendongkrak pencapaian pendapatan berbasis komisi. Hingga akhir Semester I 2020, pendapatan berbasis komisi BRI tercatat sebesar Rp 7,46 triliun atau tumbuh 18,59 persen yoy.
