Kumparan Logo

BRI Dukung Kawasan Pecinan Kya-Kya Jadi Ikon Baru Surabaya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kya-Kya, salah satu daerah pecinan di Surabaya. Foto: dok. Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Kya-Kya, salah satu daerah pecinan di Surabaya. Foto: dok. Shutterstock

Kawasan pecinan Kya-Kya menjadi daya tarik baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Surabaya, Jawa Timur. Destinasi wisata yang dibuka pada tahun 2022 ini berlokasi di Jl. Kembang Jepun, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya.

Di Kya-Kya, para wisatawan dapat mengunjungi beberapa tempat bersejarah, seperti Pasar Bong, Perkumpulan Hwie Tiau Ka, Klenteng Hok An Kiong, eks Rumah Tjoa Phik Kong, Rumah Abu The, Rumah Abu Han, Klenteng Boen Bio, dan Wisata Kampung Pecinan Kapasan Dalam (WKP Kadal).

Selain itu, pengunjung Kya-Kya Surabaya dapat mencicipi berbagai macam kuliner khas Tionghoa yang memiliki cita rasa autentik. Ada juga spot foto menarik, seperti di Mural Kya-Kya dan Mural Becak Wisata, untuk para pengunjung yang ingin mengabadikan momen.

Sejarah Kembang Jepun

Kya-Kya berada di salah satu kawasan bersejarah di Surabaya. Mengutip Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya, Jalan Kembang Jepun sempat dikenal dengan nama Handelstraat (handel berarti perdagangan dan straat artinya jalan).

Pada zaman pendudukan Jepang, kawasan ini baru dikenal dengan nama Kembang Jepun. Saat itu, banyak serdadu Jepang (Jepun) yang memiliki teman-teman wanita (kembang) di sekitar daerah ini, sehingga muncullah nama Jalan Kembang Jepun.

Kemudian, ketika banyak pedagang Tionghoa yang menjadi bagian dari perkembangan Kembang Jepun, sebuah gerbang kawasan yang bernuansa arsitektur Tionghoa dibangun di wilayah tersebut. Banyak fasilitas hiburan didirikan, bahkan ada yang masih bertahan hingga sekarang.

Seiring waktu, Kembang Jepun berkembang dengan pesat. Kembang Jepun tumbuh menjadi kawasan bisnis dan pusat kota Surabaya.

Meski bukan yang utama, Kembang Jepun tetap menjadi salah satu sentra bisnis. Kawasan ini terkenal sebagai pusat perdagangan grosir, yang dikenal sebagai CBD (central business district) Kota Surabaya.

UMKM ramaikan Kya-Kya Surabaya

BRI bantu UMKM di kawasan pecinan Kya-Kya Surabaya. Foto: Dok. BRI

Kini Kya-Kya juga menjadi rumah bagi lebih dari 40 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perkembangan kawasan wisata Kya-Kya dan UMKM tersebut, tidak luput dari bantuan BRI melalui aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) BRI Peduli.

Bantuan tersebut berupa sarana prasarana pendukung usaha, termasuk tenda, meja, kursi, dan ornamen-ornamen yang turut meramaikan tenant-tenant para pelaku UMKM.

Pelaku UMKM sekaligus koordinator di kawasan pecinan Kya-Kya, Agus Pujiyanto, turut menceritakan kondisi terkini di kawasan tersebut.

“Bantuan yang diberikan oleh BRI ini bukan semata-mata berupa fasilitas, melainkan juga dukungan serta penyuluhan terhadap penggunaan QRIS dalam kegiatan bertransaksi. Adanya QRIS ini tentunya membuat kami sangat terbantu sekali," ucap Agus.

Selain bantuan sarana dan prasarana usaha bagi pelaku UMKM, BRI juga menyalurkan berbagai bantuan bagi masyarakat di sekitar kawasan pecinan Kya-Kya. Bantuan ini merupakan wujud kepedulian BRI bagi masyarakat sekitar sekaligus memperingati Tahun Baru Imlek 2024 yang jatuh pada 10 Februari 2024 lalu.

“Kami berterima kasih kepada BRI Peduli yang telah memberikan support secara penuh kepada pelaku UMKM di Pecinan Kya-Kya, yang tentunya sangat membantu dan mendorong semangat kami para pelaku UMKM dalam menjalankan usaha dan tentunya memberikan kenyamanan bagi para pengunjung,” tutup Agus.

Pada kesempatan berbeda, Wakil Direktur Utama BRI, Catur Budi Harto mengungkapkan, melalui aktivitas CSR, BRI senantiasa mendorong pelaku UMKM di berbagai daerah untuk terus berkembang.

“Harapannya, pemberian bantuan sarana dan prasarana usaha bagi pelaku UMKM di kawasan wisata pecinan Kya-Kya Surabaya ini dapat mendorong usaha terus berkembang dan tentunya mendorong kawasan wisata Kya Kya menjadi salah satu kawasan yang ramai dikunjungi, yang pada akhirnya dapat mendorong pendapatan pelaku UMKM,” kata Catur.