BRIN Ungkap Ekspor Kakao RI Berpotensi Terdampak Tarif Trump Mulai Besok
·waktu baca 2 menit

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi menerapkan tarif impor sebesar 19 persen terhadap Indonesia mulai 7 Agustus 2025. Kebijakan ini dinilai berpotensi memberikan dampak terhadap kinerja ekspor kakao Indonesia ke Negeri Paman Sam.
Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Setiari Marwanto, menyampaikan meski tarif tersebut akan berdampak, Indonesia tidak sepenuhnya menggantungkan pasar kakao ke AS.
"Tarif Trump pastinya akan berdampak, tapi kita akan melihat dari beberapa aspek dan kita tidak perlu khawatir tentang itu karena pasar kita juga masih banyak,” ucap Setiari kepada wartawan disela acara Lokakarya Kakao di Bogor, Rabu (6/8).
Kata Setiari, BRIN belum mengambil langkah khusus terkait tarif impor baru dari AS terhadap komoditas satu ini, namun dia tetap mencermati potensi dampaknya. Ia menegaskan ketergantungan ekspor kakao Indonesia tidak hanya pada pasar AS.
“Kita masih wait and see karena kita tidak tergantung pada ekspor di Amerika saja, kita masih banyak potensi pasar kita di Eropa, di India, China dan sebagainya, tetapi itu tetap menjadi perhatian kami,” katanya.
Menurutnya, BRIN tetap akan mendukung keberlanjutan ekspor kakao melalui riset yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas di tingkat budidaya (on-farm), sekaligus memperkuat ketahanan pasokan dalam negeri.
“Dan kami tetap nanti dari BRIN akan menyokong riset terutama di on farm, jadi kami akan memastikan bahwa yang ditanam oleh masyarakat itu memang dapat menghasilkan sesuai potensinya sehingga bisa dikonsumsi paling tidak di dalam negeri karena di dalam negeri pun itu kita terindikasi masih kekurangan stok ya,” jelasnya.
Tren Ekspor Kakao RI Terus Meningkat
Indonesia merupakan salah satu negara produsen utama kakao di dunia, dengan sejumlah negara menjadi tujuan utama ekspor seperti Malaysia, Jepang, Jerman, Singapura, dan Amerika Serikat.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, ekspor kakao Indonesia terus menunjukkan tren pertumbuhan, baik dari sisi nilai maupun volume.
Pada periode Januari–April 2025, ekspor kakao tercatat senilai USD 27,5 juta atau sekitar Rp445,5 miliar (kurs Rp16.194 per dolar AS), dengan volume mencapai 2,95 juta ton.
Pada 2024, nilai ekspor kakao mencapai USD 80,6 juta dengan volume 13,18 juta ton, meningkat dari tahun sebelumnya secara nilai, meskipun secara volume sedikit lebih rendah dari 14,45 juta ton di 2023.
Sementara pada 2022, nilai ekspor mencapai USD 63,5 juta dengan volume 24,5 juta ton, dan pada 2021 sebesar USD 56,2 juta dengan volume 22,28 juta ton.
