Budi Daya Tebu, Ekonomi Baru Masyarakat Dompu

Budi daya tebu kini menjadi penggerak ekonomi baru masyarakat di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan perputaran pembayaran kepada petani diperkirakan mencapai Rp 4 miliar hingga Rp 5 miliar dalam sepekan saat musim panen.
Ketua Kelompok Tani Tebu Kabupaten Dompu Maheri mengatakan, komoditas tersebut tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga membuka lapangan kerja melalui aktivitas tebang, muat, dan angkut (TMA), pengemudi, serta pekerjaan pendukung lainnya.
"Bayangkan uang sebanyak itu berputar di Pekat. Perputaran ekonominya luar biasa," kata Maheri dikutip dari Antara, Minggu (4/10).
Menurut dia, lebih dari 3.000 pekerja TMA terlibat setiap musim panen. Petani menerima pembayaran secara mingguan, sedangkan pekerja TMA dibayarkan dua kali dalam sepekan sehingga aktivitas panen turut menjaga perputaran uang di tingkat masyarakat.
"Senin petak (tebu) habis, Jumat lapor, minggu depannya langsung cair," ujar dia.
Perkembangan tersebut berawal dari peralihan komoditas yang dilakukan petani sejak 2014. Sebelumnya, masyarakat di sejumlah desa di Kecamatan Pekat banyak mengandalkan jambu mete, tetapi produktivitas tanaman tersebut menurun akibat serangan Helopeltis atau kepik pengisap buah.
"Waktu itu tebu belum menjadi sebuah kepastian bagi kami. Tapi kami sudah tidak punya pilihan lain karena tanaman mete sudah tidak menguntungkan," katanya.
Ketua BPD Desa Sorinomo itu sendiri mengelola sekitar 10 hektare lahan tebu dengan produktivitas rata-rata 70-80 ton per hektare. Pengembangan komoditas itu kini meluas ke Sorinomo, Kadindi Barat, Karombo, Pekat, Soritatanga, Beringin Jaya, Nangakara, dan Kadindi.
Areal tebu di Kadindi Barat mencapai sekitar 150 hektare dan Karombo sekitar 100 hektare, sedangkan Kadindi memiliki sekitar 22 hektare yang turut menopang aktivitas ekonomi kawasan perkebunan.
Maheri menyebut pengelolaan 10 hektare lahannya menghasilkan pendapatan rumah tangga yang jika dirata-ratakan mencapai sekitar Rp 15 juta per bulan setelah panen.
Menurut dia, perawatan tanaman relatif lebih ringan setelah memasuki fase ratoon atau tanaman yang tumbuh kembali setelah panen. Petani terutama melakukan pengendalian gulma dan pemupukan untuk menjaga produktivitas.
Keberlanjutan komoditas tersebut menghadapi tantangan berupa mulai munculnya penyakit luka api dan hama penggerek batang. Meski dampaknya belum signifikan, petani khawatir serangan tersebut berkembang seperti yang pernah terjadi pada tanaman jambu mete.
"Sekarang sudah mulai muncul penyakit seperti luka api dan hama penggerek. Meski belum terlalu mengganggu, kami khawatir nasib tebu ini seperti jambu mete dulu," katanya.
Maheri berharap pemantauan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, pengembangan teknologi budidaya, serta dukungan penyuluhan diperkuat untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan usaha petani.
Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Penyuluhan Pertanian (PSPP) Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu Edy Chaidir mengatakan pengembangan tebu di Kecamatan Pekat mulai mendapat dukungan investasi industri pengolahan sejak awal dekade 2010-an.
Menurut Edy, pada 2010 investor datang ke Dompu untuk mencari lahan pengembangan tebu sebagai bahan baku gula. Setelah proses persiapan dan akuisisi lahan, pengembangan dilanjutkan melalui sosialisasi kepada masyarakat di 12 desa Kecamatan Pekat.
Pemerintah kemudian memperkuat tebu rakyat melalui program budi daya. Pada 2014, Kementerian Pertanian mengalokasikan pengembangan tebu rakyat seluas 1.000 hektare, kemudian dilanjutkan pada 2015–2016 sekitar 3.087 hektare melalui bantuan stimulan kepada kelompok tani.
Pada periode tersebut pemerintah juga membangun Kebun Bibit Induk (KBI) seluas 50 hektare di Kadindi Barat, Calabay, dan Sorinomo serta mengembangkan Kebun Bibit Datar melalui demplot sekitar 500 hektare. Hasil uji tersebut menunjukkan tebu dapat beradaptasi dan tumbuh baik di kawasan lereng selatan Gunung Tambora.
Kepastian pengolahan hasil semakin kuat setelah PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) mengoperasikan pabrik pada 2016. Sejak itu, kebun jambu mete secara bertahap dialihkan menjadi lahan tebu, sementara varietas Bulu Lawang (BL) berkembang di Sorinomo karena dinilai menghasilkan anakan lebih banyak dengan batang yang relatif tinggi dan berat.
