Bukan Cuma Menabung, Ini Cara Membangun Keuangan yang Lebih Sehat

Bagi banyak orang Indonesia, menabung dan hidup hemat menjadi salah satu nasihat keuangan yang sudah dikenalkan sejak kecil. Diperkuat dengan gerakan “Ayo Menabung” yang digaungkan sejak era Orde Baru, prinsip tersebut semakin tumbuh bahkan menjadi kebiasaan lintas generasi untuk mempersiapkan masa depan.
Namun, beberapa tahun terakhir, cara pandang tersebut mulai bergeser. Seiring meningkatnya perhatian terhadap mental health, work-life balance, dan pentingnya menikmati hasil kerja, banyak anak muda mulai mementingkan keseimbangan antara mempersiapkan masa depan dan menikmati kehidupan hari ini.
Tren self-reward, healing, hingga soft life pun turut membentuk cara generasi muda memandang kesuksesan, kebahagiaan, sekaligus menentukan prioritas dalam menggunakan uang.
Menurut Chief Marketing Officer (CMO) Nanovest yang sudah lebih dari 14 tahun berkecimpung di industri investasi dan sekuritas, Jovita Widjaja, perubahan cara pandang tersebut bukanlah hal yang keliru. Sebab, setiap generasi menghadapi tantangan dan kondisi ekonomi yang berbeda. Hal tersebut ikut memengaruhi seseorang dalam mengatur dan mengambil keputusan keuangannya.
"Saya setuju bahwa menjaga kesehatan mental dan menikmati hasil kerja itu penting. Kita bekerja bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk menikmati hidup. Namun di saat yang sama, kita juga perlu memastikan bahwa keputusan finansial hari ini tidak mengorbankan masa depan kita," jelas Jovita.
Menabung Tetap Penting, Tetapi Perlu Diimbangi dengan Investasi
Menurut Jovita, menabung tetap menjadi fondasi penting untuk mengelola keuangan. Namun, seiring meningkatnya biaya hidup dan tekanan inflasi, mengandalkan tabungan saja belum tentu cukup untuk mencapai berbagai tujuan finansial dalam jangka panjang.
"Menabung adalah langkah pertama yang sangat penting. Tetapi jika tujuan kita adalah mempersiapkan pendidikan anak, membeli rumah, atau mencapai kebebasan finansial, maka kita juga perlu memahami bagaimana uang dapat bertumbuh melalui investasi yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan masing-masing,"
Di sisi lain, ia menilai masih banyak orang yang terlalu fokus mencari instrumen investasi terbaik tanpa terlebih dahulu memahami kondisi keuangannya. Padahal, investasi yang sehat seharusnya dimulai dari pengelolaan cash flow yang baik dan disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing.
Tambahnya, financial literacy saat ini tidak lagi sebatas pengetahuan tentang produk investasi. Literasi finansial telah berkembang menjadi life skill yang membantu seseorang memahami kondisi keuangannya sekaligus mengambil keputusan yang lebih bijak di setiap tahap kehidupan.
Lalu, dari mana sebaiknya mulai membangun kondisi finansial yang sehat?
Bagi Jovita, investasi tidak selalu dimulai dengan modal besar. Hal yang tidak kalah penting adalah memahami kondisi keuangan dan kemampuan mengenali profil risiko masing-masing.
Oleh karena itu, edukasi finansial perlu dibuat lebih sederhana dan relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda yang baru memulai karier. Hal itulah yang menjadi latar belakang Nanovest menghadirkan Kalkulator Gaji Bersih & Rencana Investasi.
Melalui fitur ini, pengguna dapat menghitung estimasi gaji bersih setelah berbagai potongan, kemudian memperoleh rekomendasi alokasi dana yang lebih proporsional untuk kebutuhan harian, dana darurat, hingga investasi.
Selain itu, pengguna juga dapat langsung mengeksplorasi pilihan produk investasi yang sesuai dengan profil risikonya, mulai dari konservatif, moderat, hingga agresif, lengkap dengan simulasi potensi hasil investasi berdasarkan jangka waktu yang dipilih.
"Banyak orang ingin mulai berinvestasi, tetapi bingung memilih produk yang sesuai dengan kondisi keuangan dan tingkat kenyamanan mereka terhadap risiko. Karena itu, langkah pertama bukan hanya memahami berapa penghasilan bersih yang dimiliki, tetapi juga mengenali profil risiko. Dengan begitu, masyarakat dapat memilih instrumen investasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan tujuan finansialnya, bukan sekadar mengikuti tren," jelas Jovita.
Pendekatan ini membantu masyarakat mengambil keputusan investasi dengan lebih percaya diri karena didasarkan pada kondisi finansial dan profil risiko masing-masing. Dengan begitu, kebiasaan berinvestasi dapat dibangun secara lebih realistis, terukur, dan berkelanjutan.
Menjadi Perempuan yang Mandiri Secara Finansial
Pemahaman tentang pentingnya literasi finansial juga Jovita terapkan dalam kehidupan pribadi, termasuk saat mendidik kedua anak perempuannya. Ia percaya setiap perempuan perlu memiliki bekal untuk mandiri secara finansial, mulai dari memahami cara mengelola uang hingga mampu mengambil keputusan keuangan untuk dirinya sendiri.
"Saya ingin anak-anak saya tumbuh menjadi perempuan yang mandiri dan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Salah satu bekal terpenting adalah memahami cara mengelola uang dan mulai mengenal investasi sejak dini," ungkap Jovita.
Ia menegaskan bahwa menikmati hidup dan mempersiapkan masa depan bukanlah dua pilihan yang saling bertentangan.
"Menurut saya, work-life balance dan perencanaan keuangan bisa berjalan beriringan. Kita tetap bisa menikmati hidup hari ini, selama kita juga disiplin menyisihkan sebagian penghasilan untuk masa depan,"
Tujuan financial literacy bukan semata untuk menjadikan semua orang investor profesional, melainkan membantu masyarakat mengambil keputusan keuangan yang lebih baik dalam setiap fase kehidupan.
"Kalau dulu orang tua mengajarkan kita untuk rajin menabung, maka tantangan generasi sekarang adalah belajar membuat uang ikut bertumbuh. Dengan begitu, kita tidak hanya siap menghadapi kebutuhan hari ini, tetapi juga lebih siap mewujudkan impian di masa depan," tambah Jovita.
Menurut Jovita, perubahan zaman juga menuntut cara berpikir yang terus berkembang. Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, kemampuan mengelola keuangan dengan bijak hanya pengetahuan tambahan, melainkan life skill yang dapat memengaruhi kemandirian dan kualitas hidup seseorang di masa depan.
