Kumparan Logo

Bukan Cuma Software, Nvidia hingga OpenAI Jualan Baju & Laku Keras

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jensen Huang, CEO Nvidia di Korea Selatan. Foto: Kim Soo-Hyeon/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Jensen Huang, CEO Nvidia di Korea Selatan. Foto: Kim Soo-Hyeon/REUTERS

Perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) mulai memperluas bisnisnya ke dunia fashion. Nvidia, OpenAI, hingga Anthropic kini menawarkan pakaian dan merchandise edisi terbatas yang justru banyak diburu penggemarnya.

Mengutip BBC, Jumat (18/9), Nvidia, perusahaan pembuat chip AI asal Amerika Serikat itu menjual berbagai merchandise eksklusif, mulai dari kaus, hoodie, sweater dan topi. Produk-produk tersebut biasanya hanya dijual melalui stan pop-up saat konferensi Nvidia atau dalam periode penjualan yang sangat terbatas melalui toko online. Sistem penjualan terbatas tersebut membuat produk Nvidia cepat habis terjual.

Salah satu yang menarik perhatian adalah sweater hijau tua bergambar karakter kartun CEO Nvidia Jensen Huang yang dibanderol dengan harga USD 178.

Natalie Fratto, seorang pendiri startup teknologi di New York yang juga penggemar Nvidia termasuk orang yang membeli sweater tersebut.

Bagi Natalie Fratto, mengenakan sweater hijau tua milik raksasa chip Amerika Serikat (AS), Nvidia, terasa seperti memakai jersey dari tim olahraga favorit. Ia bahkan dengan bangga mengenakannya dalam video yang diunggah ke media sosial.

"Saya punya jersey rugby New Zealand All Blacks, dan saya menganggap sweater Jensen saya kurang lebih seperti itu," ujar Fratto dikutip dari BBC, Kamis (17/9).

CEO Nvidia Jensen Huang berbicara dalam pertemuan internal perusahaan di lahan kavling T17 dan T18 mereka di Shilin-Beitou Technology Park di Taipei, Taiwan, Rabu (27/5/2026). Foto: I-HWA CHENG/AFP

Fenomena ini tidak hanya dilakukan Nvidia. Sejumlah perusahaan teknologi lainnya juga mulai menjual pakaian bermerek mereka, dengan mengandalkan konsep eksklusivitas.

OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, misalnya, biasanya hanya menyediakan pakaian bermerek dari perusahaannya untuk karyawannya. Namun, sesekali produk tersebut dijual untuk umum melalui situs resminya selama beberapa hari.

Sementara itu, Anthropic, perusahaan pembuat chatbot Claude, pada tahun lalu membuka kedai kopi pop-up sementara di kawasan West Village, Manhattan. Selama satu minggu, pengunjung bisa mendapatkan topi bisbol gratis dengan tulisan yang dibordir di bagian depan.

Profesor dari Parsons School of Design di New York, Hazel Clark menilai perusahaan teknologi mulai mengadopsi strategi yang umum digunakan industri fashion, salah satunya dengan membatasi jumlah produk yang tersedia.

"Ini merupakan strategi yang sangat umum digunakan berbagai merek. Keterbatasan produk membuatnya semakin diinginkan," ujar Hazel.

Hal ini juga terlihat pada perusahaan perangkat lunak AS, Palantir Technologies. Sejak meluncurkan produk pakaiannya tahun lalu, Palantir bahkan mulai menyebut dirinya sebagai lifestyle brand atau merek gaya hidup.

Kepala Strategic Engagement Palantir, Eliano Younes, mengatakan sebuah lifestyle brand tidak ditentukan dari barang yang dijual, melainkan dari nilai yang diwakilinya dan apakah orang ingin mengidentifikasikan dirinya dengan merek tersebut.

Menurut Younes, kesuksesan toko dan antusiasme komunitas menunjukkan bahwa strategi tersebut mendapat respons positif. Ia mengatakan investor, pelanggan, karyawan, hingga masyarakat umum dari lebih dari 60 negara telah membeli produk Palantir, termasuk jaket berbahan katun.

CEO OpenAI Sam Altman berbicara selama Konferensi "Tinjauan Terpadu Kerangka Modal untuk Bank-Bank Besar" Dewan Gubernur Federal Reserve AS di Federal Reserve, Washington, DC, pada 22 Juli 2025. Foto: Andrew Harnik/Getty Images/AFP

Salah seorang pembeli produk Palantir di AS, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan dirinya tertarik membeli merchandise tersebut karena kontroversi yang melingkupi perusahaan dan banyaknya orang yang membicarakannya.

Ia bahkan menyebut produk Palantir sebagai bentuk anti-fashion, karena justru menarik perhatian dengan tampil berbeda dari tren fesyen pada umumnya.

Namun, sejumlah pihak menilai penjualan merchandise bergaya tersebut juga bisa menjadi cara perusahaan untuk membangun persepsi yang lebih positif di tengah berbagai kontroversi.

Sementara itu, penulis buku Tech Agnostic Greg Epstein melihat fenomena merchandise teknologi dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya mengenakan merchandise perusahaan teknologi dapat menjadi cara seseorang menunjukkan bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok tertentu. Hal tersebut, khususnya, dapat menarik kalangan di Silicon Valley yang tengah mencari identitas, tujuan, dan rasa kebersamaan.

Fenomena merchandise perusahaan teknologi dan pertahanan ini pun memunculkan respons beragam, mulai dari penggemar hingga kritik.

Bagi Fratto, fenomena tersebut memang menjadi bagian unik dari tren budaya saat ini. Namun, ia juga menganggap keputusan Nvidia menampilkan wajah Jensen Huang di bagian depan merchandise perusahaan sebagai sesuatu yang lucu dan menarik.

instagram embed