Kumparan Logo

BUMN Ramai-ramai Bisnis Internet, Erick Thohir Diminta Turun Tangan

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (30/11).  Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (30/11). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Sederet perusahaan negara mulai merambah ke bisnis internet. Bahkan, BUMN yang sektornya bukan bisnis telekomunikasi pun kini turut melirik peluang tersebut.

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, menilai bisnis internet memang punya peluang yang sangat menggiurkan saat ini. Terutama karena melonjaknya kebutuhan masyarakat akibat terpaksa mengalihkan aktivitas sehari-hari ke dunia digital.

"Tiap rumah kini butuh akses broadband dan belum semua rumah mendapatkan layanan. Karenanya pasar terbuka luas," ujar Heru kepada kumparan, Jumat (25/6).

Kendati peluang bisnis terbuka lebar, Heru menyayangkan banyaknya BUMN yang ikut-ikutan. Padahal sebelumnya, sektor ini sudah ada perusahaan pelat merah yang berfokus di sana, yakni PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau Telkom dengan Telkomsel sebagai jangkarnya.

Ilustrasi Indihome. Foto: Shutter Stock

Atas dasar itu, ia berharap Menteri BUMN Erick Thohir segera turun tangan untuk mengontrol hal tersebut. Sebab menurutnya, Telkom saja sudah cukup untuk berfokus ke sana.

Sementara BUMN seperti PLN bisa membantu di infrastruktur dengan menyewakan tiang atau SUTET untuk jaringan internet. Seperti yang akan dilakukan oleh PT Jasa Marga Tbk dengan rencana menyediakan infrastruktur internet di sepanjang jalan tol.

"Perlu ada evaluasi dari Menteri BUMN, apakah perlu banyak perusahaan atau anak usaha BUMN terjun memberikan layanan internet. Perlu diatur, Telkom saya pikir cukup. PLN bisa jadi penyedia infrastruktur atau pendukung layanan," tuturnya.

Komentar senada sebelumnya juga disampaikan Direktur Eksekutif BUMN Institute Achmad Yunus. Praktik saling rebutan lahan bisnis ini, ia nilai sebagai bukti tak beresnya pengelolaan BUMN.

kumparan post embed

Yunus juga khawatir, kondisi tersebut rawan menyebabkan perusahaan pelat merah mengalami kebangkrutan. Meskipun sebetulnya bukan kali pertama terjadinya tumpang tindih lini bisnis antar-BUMN.

"Core business BUMN sudah jelas masing-masing. Kesannya BUMN kita dikelola serampangan, enggak business plan yang jelas dan saling bersaing sendiri," ujar Achmad Yunus.