BUMN Sanggupi Permintaan Jokowi Agar Lirik Pangsa Pasar di Afrika

27 Maret 2023 19:30
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Menteri BUMN Erick Thohir mengunjungi Krakatau Park di Lampung Sabtu (18/3/2023). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Menteri BUMN Erick Thohir mengunjungi Krakatau Park di Lampung Sabtu (18/3/2023). Foto: Dok. Istimewa
Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan Presiden Jokowi telah meminta perusahaan untuk mengembangkan pangsa pasar di Benua Afrika. Permintaan tersebut disampaikan saat rapat terbatas (ratas).
Arahan Jokowi itu untuk mendukung peningkatan neraca perdagangan Indonesia yang bergantung pada perdagangan di kawasan selatan.
"Perdagangan south to south hari ini salah satu yang mendukung trade surplus Indonesia, dengan India, Pakistan, Bangladesh, Afrika 1,3 miliar. Founding father kita sudah membuka ini dulu tahun 1965 dengan konferensi Asia Afrika," ujarnya saat Sosialisasi Peraturan Menteri BUMN Tahun 2023, Senin (27/3).
Pengembangan pangsa pasar ini memiliki potensi yang besar sekaligus persaingan berat. Dia memastikan BUMN bisa melaksanakan penugasan ini dan menjadi lokomotif perkembangan ekonomi.
"Sangat diharapkan oleh pemerintah kita menjadi lokomotif ketika masuk ke pangsa baru, kita bisa menjadi bagian dari pemulihan ekonomi, kita juga sepakat untuk bisnis-bisnis yang bukan ahlinya kasih private sector," tegasnya.
Jokowi akan melakukan kunjungan ke enam negara di Benua Afrika di pekan depan. Sebelum kunjungan itu, Erick akan mempersiapkan rencana kerja sama apa saja yang menguntungkan bagi Indonesia.
"Salah satunya kita yang diharapkan mulai berhitung ulang (kerja sama) mana yang baik dan mana yang tidak baik. Tenang saja yang tidak baik sudah saya tolak, tapi kalau yang baik saya bilang ada kesempatan kita memperbaiki supply chain kita," jelas Erick.
Salah satu rencana kerja sama yang potensial adalah impor daging. Meski begitu, dia tidak merinci kerja sama seperti apa yang akan berlangsung terkait perdagangan daging tersebut.
"Mereka ada surplus daging, kita impor daging. Kita trade mungkin tidak pakai uang, kita trade pakai ivetasiasi pembayarannya pakai daging, toh kita butuh," imbuhnya.
"Ini menjadi pemikiran kita masuk perbaiki supply chain kita, bukan sekadar pengembangan pasar dan sekadar untung tapi harus perbaiki supply chain karena 280 juta penduduk perlu kepastian pangan dan energi," pungkas Erick.