Kumparan Logo

Butuh 7 Tahun untuk Garuda Indonesia Punya Pesawat Baru

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pesawat Garuda Indonesia. Foto: eka.viation/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Pesawat Garuda Indonesia. Foto: eka.viation/Shutterstock

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia mengungkapkan pesanan pesawat baru oleh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, termasuk dari pabrikan asal Amerika Serikat (AS) Boeing, baru bisa dikirim paling cepat 7 tahun lagi.

Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, menyebut ada tantangan pengiriman pesawat baru dari pabrikan dunia seperti Boeing dan Airbus.

“Problemnya justru kita mau beli, mau investasi pesawat baru, tapi delivery (pengiriman) pertamanya 7 tahun dari sekarang paling cepat. Beli pesawat lagi antre,” ujar Rohan saat Coffee Morning bersama media, Jumat (31/10).

Rohan menambahkan, pembelian pesawat baru ini merupakan bagian dari kontrak antara Garuda Indonesia dan Boeing yang sudah disepakati saat restrukturisasi.

“Iya, (pembelian termasuk kontrak dengan AS), kan sudah dikontrak waktu restrukturisasi, kita harus beli dari Boeing. Tapi either Boeing atau Airbus dua-duanya 7 tahunan,” lanjutnya.

Masih Berjuang Lunasi Utang Lessor

Rohan menjelaskan, Garuda Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam melunasi utang kepada lessor. Setelah restrukturisasi, maskapai nasional itu kehilangan banyak armada karena sejumlah pesawat dikembalikan ke lessor akibat biaya operasional tidak cukup untuk mengangsur utang..

“Kemarin ada delay antara peralihan ini, dia sempat di-grounded. Beberapa pesawat yang telat leasing-nya, artinya kalau telat seperti itu, penumpangnya jadi kurang, penghasilannya kurang. Berarti jadi rugi,” jelasnya.

Untuk membantu kondisi tersebut, Danantara menyalurkan injeksi modal atau shareholder loan sebesar USD 450 juta atau sekitar Rp 6,65 triliun kepada Garuda Indonesia. Sebagian besar dana tersebut disalurkan melalui anak usaha, PT Citilink Indonesia. Rohan menyebut, suntikan dana ini kemungkinan akan kembali ditambah ke depannya.

“Itu memang skema cicilannya (dengan lessor) yang akan terus dilaksanakan sesuai dengan perjanjian restrukturisasinya,” ujar Rohan.

instagram embed

Pesanan 50 Pesawat Boeing 777 Belum Tuntas

Sebelumnya, CEO Danantara Rosan Roeslani juga mengungkapkan bahwa Garuda Indonesia masih memiliki pesanan 50 pesawat Boeing 777 yang dipesan sebelum pandemi COVID-19. Dari total pesanan tersebut, baru satu unit yang sudah dikirim.

“Kesepakatan itu antara Boeing dan Garuda sudah ada sebelum COVID. Pembelian 50 pesawat Boeing itu, yang sudah ter-delivery baru satu, jadi masih kurang 49,” kata Rosan di kantor Danantara, Jakarta, Selasa (29/7).

Rosan menambahkan, pihak Boeing telah bertemu dengan manajemen Garuda Indonesia dan pemerintah untuk membahas kelanjutan pengiriman pesawat tersebut. Namun, proses pengiriman baru diperkirakan mulai 2031 hingga 2032.