Cadangan Aluvial Menipis, PT Timah Bakal Fokus Kembangkan Tambang Primer
ยทwaktu baca 4 menit

PT Timah (Persero) Tbk (TINS) berencana mengembangkan pertambangan timah primer, setelah mendapati bahwa cadangan timah aluvial di wilayah operasionalnya sudah semakin menipis.
Berdasarkan catatan Badan Geologi Kementerian ESDM, bijih timah yang ditambang di Indonesia umumnya berasal dari endapan timah aluvial, sering disebut sebagai endapan timah sekunder atau timah placer. Timah aluvial ini biasanya diangkut dari lautan.
Direktur Pengembangan Usaha PT Timah, Suhendra Yusuf Ratuprawiranegara, mengatakan cadangan timah aluvial akan mulai berkurang setidaknya mulai tahun 2029.
"Berdasarkan data-data eksplorasi yang kita miliki di PT Timah itu bisa dikatakan kandungan atau cadangan dari aluvial ini sudah mulai berkurang nanti di tahun 2029," katanya saat berbincang bersama media di Pangkalpinang, Provinsi Bangka, Sabtu (23/8).
Dengan begitu, cadangan timah di Indonesia mulai mengarah kepada sumber primer, alias yang berada di daratan dan biasanya berbentuk batuan. PT Timah, kata Suhendra, akan merespons hal tersebut sebagai proses transformasi.
Di sisi lain, dia mengakui bahwa PT Timah selama ini belum menggarap cadangan timah primer secara optimal di Indonesia. Untuk mendukung itu, perusahaan akan menjajaki berbagai opsi teknologi yang mumpuni.
"Cadangan primer belum kami garap secara optimal, dan kami mengetahui cadangannya itu cukup besar dalam hitungan ratusan ribu ton. Makanya kita fokus untuk melakukan dan sekaligus mencoba melihat teknologi apa yang efisien," jelas Suhendra.
Suhendra pun meyakini pengembangan cadangan timah primer ini bisa meningkatkan pendapatan sekaligus profitabilitas dari PT Timah.
Lokasi Cadangan Primer PT Timah
Dia menyebutkan, saat ini terdapat dua pertambangan timah primer yang difokuskan PT Timah, yakni di Paku Kabupaten Bangka Selatan, serta Batu Besi di Kabupaten Belitung. Namun, perusahaan memiliki setidaknya 4-5 lokasi pertambangan timah primer.
"Kita ada di tambang Paku lokasinya di Paku, kemudian di Batu Besi Belitung. Ada di beberapa tempat lagi, tapi yang menjadi concern kami saat ini adalah untuk mengembangkan di dua lokasi," ungkap Suhendra.
Perusahaan, lanjut Suhendra, mencatat cadangan timah primer yang perusahaan miliki mencapai 300.000 ton dan akan dikembangkan secara optimal mulai dari sekarang hingga 5 tahun ke depan.
Meskipun sudah ada pertambangan timah primer yang beroperasi, dia menyebutkan perusahaan akan melakukan studi kelayakan ulang (re-feasibilty study) dengan menyesuaikan kondisi geologi dan teknologi terbaru.
"Kita lagi lakukan re-FS untuk penyesuaian dengan kondisi geologi, pertimbangan-pertimbangan teknis di lapangan seperti apa. Termasuk kemarin saat saya mengunjungi Paku itu selintas saya lihat ini next pasti menggunakan blasting dengan kondisi kontur dan geologi yang ada," tuturnya.
Saat ini, pertambangan timah primer yang dimiliki perusahaan masih berkontrak dengan mitra, terhitung sejak 10 tahun lalu. Ke depannya, Suhendra menyebutkan direksi PT Timah ingin menggarapnya secara mandiri ketika mulai beroperasi kembali pada tahun 2026.
"Saat ini kita setop dulu karena ada kebijakan dari Pak Dirut PT Timah untuk coba kita garap sendiri, ini tengah kami persiapkan untuk langkah ke depannya seperti itu. Kemungkinan besar akan kita kita running kalau mau kita garap paling cepat itu di awal 2026," tandas Suhendra.
Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat nilai sumber daya bijih timah yang terverifikasi sebesar 4,99 miliar m3, nilai cadangan yang terverifikasi sebesar 5,09 miliar m3, dari total sumber daya dan cadangan bijih timah.
Berdasarkan hasil pemutakhiran diperoleh pada tahun 2024, total sumber daya bijih timah sebesar 8,27 miliar m3, total cadangan bijih 6,43 miliar m3, total sumber daya konsentrat kasiterit (SnO2) 3,517 juta ton, total cadangan konsentrat SnOz 1,99 juta ton dan total sumber daya logam timah (Sn) sebesar 2,53 juta ton, serta total cadangan logam timah (Sn) 1,44 juta ton.
Berdasarkan perkembangan nilai sumber daya dan cadangan logam timah tahun 2020-2024, nilai total sumber daya bijih timah mengalami kenaikan 195 juta m3 apabila dibandingkan dengan tahun 2023, sedangkan total cadangan bijih timah mengalami kenaikan sebesar 69 juta m3.
