Cadangan Devisa Kian Menyusut, Ekonom Ingatkan Dampaknya ke Stabilitas Pasar RI
·waktu baca 3 menit

Cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 turun menjadi USD 146,2 miliar dibanding periode bulan sebelumnya. Penurunan ini dinilai masih berada pada level aman karena setara sekitar 5,8 bulan impor dan jauh diatas standar kecukupan internasional yang umumnya berada di kisaran tiga bulan impor.
Economic Researcher CORE, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan tren penurunan cadangan devisa dalam beberapa bulan terakhir sesungguhnya perlu diperhatikan. Ia pun menyoroti cadangan devisa yang berkurang sekitar USD 10 miliar dalam lima bulan terakhir, mencerminkan besarnya tekanan eksternal terhadap perekonomian domestik.
“Penurunan ini sangat berkaitan dengan pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level 17.400 per dolar AS. Bank Indonesia sendiri menjelaskan salah satu penyebab turunnya cadangan devisa adalah kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Yusuf saat dihubungi kumparan, Sabtu (9/5).
Tren penurunan tersebut tetap dianggap sebagai peringatan yang perlu diwaspadai apabila terus berlangsung dalam jangka panjang tanpa adanya pemulihan. Kendati demikian, Yusuf lebih memandang penurunan ini sebagai konsekuensi menjaga stabilitas pasar ketimbang sinyal runtuhnya fundamental ekonomi Indonesia.
“Dengan kata lain, level rupiah saat ini adalah hasil setelah intervensi dilakukan. Tanpa langkah stabilisasi itu, pelemahan rupiah kemungkinan bisa lebih dalam lagi,” kata Yusuf.
Ia memperingatkan, jika penurunan berlangsung terus dengan ritme sekitar USD 2 miliar per bulan dalam beberapa kuartal ke depan, pasar pasti mulai mempertanyakan seberapa kuat daya tahan Indonesia menghadapi tekanan dolar global. “Tren pengurangan ini tetap menjadi lampu kuning,” tutur Yusuf.
Rupiah Diprediksi Bakal Tembus hingga Rp 17.500 per Dolar AS
Menambahkan Yusuf, Pengamat Rupiah dan Emas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan kurs rupiah terhadap dolar AS diprediksikan masih berpotensi melemah dengan kisaran Rp 17.320 hingga Rp 17.500 per dolar AS pada pekan depan. Katanya, pelemahan ini masih dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, termasuk laporan terbaru mengenai serangan Iran terhadap kapal perang AS.
“Ke depan, kemungkinan (rupiah) masih melemah ya, Prediksi saya itu Rp 17.320 sampai Rp 17.500 (per dolar AS). Ini tetap masalahnya adalah perang Timur Tengah,” kata Ibrahim kepada kumparan.
Ibrahim menyatakan, perang di Timur Tengah yang belum mereda akan terus berdampak terhadap pergerakan rupiah. Meski demikian, langkah intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) dinilai sudah tepat dan sesuai regulasi yang berlaku.
“Permasalahannya adalah kita butuh dolar cukup banyak. Pada saat tensi geopolitik di Timur Tengah itu meningkat, harga minyak itu melemah. Sebenarnya itu permasalahannya,” kata Ibrahim.
Ia menuturkan, apabila situasi di Selat Hormuz kembali stabil dan hubungan Iran dengan AS membaik, maka rupiah berpeluang kembali menguat. “Dolar pasti menguat, bahkan (di kondisi perang Iran mereda) BI juga intervensinya tidak akan sebesar sekarang ini,” ucap Ibrahim.
