Kumparan Logo

Cadangan Devisa USD 144 M, Kemenkeu Sebut Ekonomi RI Tahan Guncangan Global

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga beraktivitas di rumahnya berlatar belakang hunian bertingkat di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Sabtu (9/5/2020). Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
zoom-in-whitePerbesar
Warga beraktivitas di rumahnya berlatar belakang hunian bertingkat di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Sabtu (9/5/2020). Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki ketahanan terhadap ketidakpastian global. Hal ini tercermin dari cadangan devisa Indonesia yang peningkatannya paling cepat, yang mencapai USD 144,2 miliar pada bulan April 2023.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, Febrio Kacaribu, menyebutkan cadangan devisa ini merupakan salah satu senjata negara untuk menarik investor ke dalam negeri. Ia memamerkan pertumbuhan cadangan devisa Indonesia senilai 5,8 persen, melampaui negara-negara maju seperti Amerika Serikat (1,4 persen) dan Inggris (1,2 persen).

“Angka-angka ini membuat confidence dari perekonomian dan investor untuk bisa melanjutkan aktivitas ekonomi dan meningkatkan aktivitas ekonomi di Indonesia," ujar Febrio dalam acara Macroeconomic Update, Senin (8/5).

embed from external kumparan

Salah satu faktor yang mendorong peningkatan cadangan devisa adalah keberhasilan hilirisasi sumber daya alam (SDA). Febrio mengungkapkan hilirisasi sukses meningkatkan nilai tambah bahan baku di Indonesia.

BKF mencatat hasil ekspor selama 8 tahun naik hampir dua kali lipat. Pada tahun 2014, cadangan devisa berada di tingkat USD 176 miliar, kemudian devisa meroket hingga USD 292 miliar pada 2022.

"Kalau sektor-sektor bertambah tinggi tumbuh dan mendominasi ekspor, sehingga berdaya saing. Komponen dari hasil transformasi ekspor besi dan baja, pada 2014 hampir tidak ada ekspor. Namun di 2022 kita hasilkan ekspor USD 27,8 miliar," ungkap Febrio

Oleh karena itu, perekonomian Indonesia yang berhasil tumbuh 5,03 persen year-on-year (yoy) di kuartal I 2023 dapat menjadi stimulus kepada investor untuk berinvestasi di Indonesia. Juga diperkuat dengan indikator nilai tukar rupiah yang menguat.

"Kurs nilai tukar rupiah apresiasi 6,72 persen year-to-date (ytd) dibandingkan banyak negara yang apresiasinya kecil. Bahkan banyak negara banyak mengendalikan nilai tukar karena depresiasi. Seperti Korea Selatan, Afrika Selatan, Turki, Argentina yang mengalami depresiasi dalam tiga bulan ini (Januari-Maret 2023)," jelas Febrio.