Cara Pengusaha Mebel Agar Produknya Dikenal di Luar Negeri

Ekspor mebel dan kerajinan di Indonesia ditargetkan mencapai USD 5 miliar hingga akhir 2019. Untuk mencapai target ini, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan di Indonesia (HIMKI) gencar mengikuti pameran-pameran bertaraf internasional. Salah satu pameran yang akan diikuti oleh HIMKI adalah IMM Cologne di Jerman pada 15-22 Januari ini.
Menurut Sekretaris Jenderal HIMKI Abdul Sobur, Jerman dipilih karena Eropa masih menjadi pasar terbesar ekspor mebel dari Indonesia.
“Pasar Eropa itu lebih dari 60%, sisanya dibagi-bagi dari Amerika, Asia, dan Timur Tengah. Yang paling penting itu di Eropa dan IMM Cologne itu paling banyak dikunjungi oleh pembeli,” kata Sobur di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (10/1).
IMM Cologne merupakan pameran furnitur terbesar di Eropa yang diselenggarakan setiap tahun. Pada tahun ini, luas area yang dipergunakan sebesar 239.500 m2 dan diikuti oleh 1.361 pengusaha dari 51 negara.
“Kita mendapatkan luas lahan 730 m2 dengan membawa 10 pengusaha. Walaupun tidak begitu luas, kami yakin pembeli tidak hanya melihat kuantitas tapi juga ciri khas furnitur yang tidak dijual negara lain,” jelasnya.

Sepuluh perusahaan ini, menurut Sobur, melewati proses yang ketat untuk bisa diikutsertakan dalam pameran. Karena, pengusaha-pengusaha ini nantinya harus mampu berkontribusi besar pada devisa negara.
“Target perolehan devisa dari pameran ini adalah USD 200 juta, sehingga tanggung jawab dari pengusaha juga besar untuk bisa berkontribusi,” lanjutnya.
Tahun ini merupakan keenam kalinya HIMKI mengikuti pameran IMM Cologne. Namun, khusus tahun ini, terdapat 5 BUMN yang mau mensponsori keikutsertaan HIMKI, yakni PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT PLN (Persero), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
“Kami sangat mengapresiasi karena dari APBN belum bisa mensupport yang lebih besar untuk kegiatan ekspor kami. Setidaknya untuk sekarang BUMN bisa terlibat,” ujarnya.
